Beberapa hari lalu, jagad medsos heboh sama viralnya sebuah video. Ada seorang ibu muda, penerima beasiswa LPDP dengan bangganya menyatakan anaknya resmi punya kewarganegaraan Inggris.
Sebenarnya, bukan sesuatu yang salah. Toh, aku sudah banyak menemui tetanggaku yang anaknya punya kewarganegaraan selain Indonesia karena mereka memang terlahir di Negara tersebut.
Umumnya yang begini tuh para TKI ya. Btw, tetangga dan saudara-saudaraku emang banyak yang menjadi TKI, baik yang ilegal maupun yang legal.
Cuma yang jadi masalah dari video viral itu adalah pernyataan ibunya. Bahwa cukup dia saja yang WNI, anak-anaknya jangan. Seolah, apa banget gitu jadi WNI.
Padahal, doi sekolahnya masih pake beasiswa Negara saja. LPDP gitu lho. Tapi, lagunya selangit banget dah ah.
Terlepas dari video yang lagi viral itu, aku kayak tiba-tiba membayangkan wajah masa depanku. Khususnya, tentang anakku, pendidikan mereka, dan dunia yang akan mereka jalani kelak.
Setelah itu, muncul pertanyaan klasik yang sukses bikin aku gelisah. Apakah aku akan memilih sekolah formal yang terstruktur dan mapan buat mereka?
Syukur-syukur kalau mereka bisa dapat beasiswa sampai ke luar negeri (LN). Asal tetap nggak melupakan akar mereka, aku nggak masalah sama sekali.
Atau, memilihkan jalur homeschooling a.k.a home education?
Jujurly, terselip keraguan dalam hatiku kalau harus memilih langkah ini. Tapi, mau gimanapun, aku nggak bisa bohong kalau aku juga penasaran.
Bukannya apa ya. Sebagai orang tua, aku ‘kan ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anakku. Biar mereka punya persiapan untuk tumbuh dan menjalani hidup yang serba tak pasti.
Apa Sebenarnya yang Dimaksud dengan Homeschooling?
Sesuai namanya, homeschooling, atau home education, adalah sebuah metode pendidikan di mana anak-anak belajar di rumah dengan bimbingan orang tua atau tutor.
Dalam artian, mereka nggak sekolah di sekolah formal kayak biasanya.
Aku yang paham sama kondisi anak-anakku bisa menentukan sendiri kurikulum homeschooling. Ini tentu bisa kusesuaikan dengan kebutuhan, minat, dan tempo belajar mereka.
Beda cerita kalau anakku sekolahnya di sekolah formal. Mereka akan merujuk pada kurikulum yang sudah ditetapkan sama pemerintah. Saklek dengan struktur yang baku.
Nggak perduli apakah anakku bisa mengikutinya atau nggak. Yah, meski harus kuakui, ada banyak guru yang mungkin memperhatikan kondisi siswanya.
Tapi, tentu kontrolnya akan berbeda. Satu guru mengajar siswa sekelas dengan satu guru mengajar satu anak di rumah. It’s your choice ya, Gengs!
Kenapa Aku dan Banyak Orang Tua Lainnya Mulai Tertarik Pada Homeschooling?
Sekolah di sekolah formal mungkin akan menemui beberapa kesulitan. Kayak, anakku mungkin akan terlalu cepat bosan belajar di sekolahnya.
Mungkin, jam pelajarannya nggak sesuai sama ritme belajar anakku. Dan bla bla, alasan lainnya.
Tapi, daripada alasan itu semua, aku dan mungkin beberapa orang tua lainnya selalu ingin mendampingin pendidikan anakku lebih dekat.
Terlepas dari semua alasan itu, ada beberapa hal yang mungkin bisa kalian pertimbangkan untuk memilih sekolah untuk anak, di antaranya:
1. Personalisasi Belajar yang Lebih Dalam

Aku sudah pernah membersamai adik dan keponakanku dalam proses belajar mereka di sekolah dasar. Saat itu, aku menyadari satu hal. Keduanya punya cara belajar yang berbeda.
Keponakanku adalah tipe anak yang butuh waktu lebih lama untuk memahami satu konsep. Tapi, saat sudah paham, dia akan benar-benar menguasainya.
Beda cerita sama adikku. Dia tipe anak yang cepat banget memahami sesuatu lewat cerita. Bukan lewat angka-angka di papan tulis.
Dari situ, sebenarnya aku sudah menyadari. Homeschooling mungkin lebih unggul karena pembelajarannya bisa benar-benar dirancang agar sesuai dengan karakter adik dan keponakanku.
Contohnya:
- Keponakanku yang juga termasuk anak kinestetik bisa lebih banyak belajar dari praktik, eksperimen, atau proyek.
- Adikku yang visual learning bisa belajar pakai peta konsep, ilustrasi, dan video.
- Selain itu, ada anak yang verbal bisa belajar lewat diskusi dan membaca.
Ada sebuah penelitian yang kubaca dari National Home Education Research Institute (NHERI). Katanya salah satu alasan utama orang tua memilih homeschooling adalah fleksibilitas dalam menyesuaikan metode belajar dengan kebutuhan anak, termasuk anak dengan kebutuhan khusus maupun gifted.
Aku setuju dengan hasil penelitian tersebut. Soalnya, aku pun kalau punya anak kelak kalaupun milih homeschooling untuk anak ya karena bisa cari metode belajar yang sesuai untuk anakku.
Tapi, ada satu nih masalahnya. Aku tuh beneran bisa cukup sabar untuk benar-benar mengenali cara belajar anakku atau hanya terpesona sama ide fleksibilitasnya doang?
Maksudku, personalisasi belajar di sini tuh bukan cuma mengganti buku paket sama modul belajar buatan sendiri. Aku juga harus observasi belajar anakku sendiri, konsistensi, dan keterlibatan emosi yang nggak bisa setengah-setengah.
2. Fleksibilitas Waktu & Kesempatan Eksplor
Sekolah formal sudah menentukan ritme belajarnya. Kapan jam masuk, istirahat, pulang sekolah. Semua murid harus mengikuti aturan waktu belajar tersebut.
Ritme waktu belajar begini memang akan menumbuhkan kedisiplinan dan manajemen waktu. Tapi sayangnya, nggak semua siswa bisa belajar optimal dengan tempo yang sama.
Dalam praktiknya, homeschooling atau home education, konon orang tua punya ruang untuk menyesuaikan jadwal belajar sesuai ritme biologis dan emosional anak.
Nggak harus selalu pagi. Nggak harus duduk di meja belajar selama 6 jam penuh. Dan nggak harus menyelesaikan satu bab dalam satu pertemuan.
3. Responsif terhadap Kebutuhan Khusus
Kalau di sekolah formal, satu guru bisa menangani puluhan siswa dengan kebutuhan yang berbeda-beda.
Tapi ‘kan sekarang sudah banyak sekolah yang mulai menerapkan sistem inklusi?
Meski begitu, tetap saja. Kenyataannya nggak semua sekolah punya sumber daya yang cukup untuk memberikan perhatian pada setiap siswa dengan intens.
Beda cerita kalau aku nanti memilihkan homeschooling untuk anakku. Seenggaknya, aku bisa responsive sama kebutuhan khusus yang anakku butuhkan, misalnya:
- penyesuaian tempo belajar,
- susah memahami pelajaran dan harus mengulang materi,
- pengurangan overstimulasi kalau anakku ternyata sensitif sama lingkungan ramai.
Intinya, aku bisa mendesain kurikulum homeschooling dengan bantuan profesional yang lebih adaptif untuk anakku.
Tapi, Apakah Ini Benar-Benar Solusi? atau Sekadar Pelarian?
Pertanyaan ini tuh sering banget seliweran di pikiranku. Apa iya aku memilih homeschooling karena yakin ingin anakku benar-benar bisa mempersiapkan diri untuk tantangan zaman?
Jangan-jangan, aku cuma kecewa sama sistem pendidikan formal, makanya enggan anakku mengikuti kurikulumnya yang demen banget gonta-ganti.
Terlepas dari itu semua, memang ada beberapa kekhawatiran yang sering muncul, antara lain:
Tantangan sosialisasi

Dulunya, aku tuh sekolah di sekolah formal. Aku nggak hanya belajar matematika dan pelajaran lainnya. Tapi, aku juga belajar tentang konflik kecil sama teman sebangku.
Gimana melelahkannya belajar kelompok? Gimana berdamai dengan teman setelah bertengkar?
Pokoknya, dari sekolah aku belajar banyak hal yang nggak ada di buku paket. Terus, gimana dengan anakku kalau misalkan dia sekolahnya homeschooling yang mostly belajarnya di rumah?
Apakah dia bisa melewati tantangan sosial? Masa iya, dia harus terus bergantung sama orang tuanya?
Oh iya, kalian bisa baca artikel tentang sosialisasi homeschooling di blog Tulisandin ya!
Kualitas Pembelajaran & Disiplin
Sebagai blogger yang bekerja dari rumah, aku tahu betul gimana nyamannya punya waktu yang fleksibel.
Nggak harus bangun pagi. Apa itu bel? Anakku nggak perlu lagi melakukan absensi.
Sayangnya, di situlah letak tantangannya. Disiplin harus kita bangun sendiri. Sehingga, realitanya nggak sesederhana sekolah di rumah itu santai.
Bisa jadi home education malah lebih melelahkan lho. Soalnya:
- Aku harus menyusun atau memilih kurikulum homeschooling yang tepat.
- Harus memastikan anak benar-benar paham sama materinya.
- Harus konsisten setiap hari, bahkan saat anak sedang lelah, sibuk, atau emosional.
Antara Homeschooling vs Sekolah Formal, Mana yang Lebih “Solutif”?
Kalau aku harus jujur, aku pribadi sering merasa kalau kedua sistem ini punya nilai baik masing-masing.
Sekolah formal misalnya. Strukturnya sudah jelas, fasilitas lengkap, dan peluang sosialisasi langsung dengan banyak teman yang seusia dengan anakku.
Kalau homeschooling atau home education. Lebih fleksibel, personal, dan sesuai dengan gaya belajar anakku.
Makanya, kalau harus memilih di antara keduanya, aku akan melihat beberapa hal ini dulu:
- Karakter anakku.
- Apa saja kebutuhan belajarnya.
- Kapasitas keluargaku.
- Dan tentu saja, masa depan yang aku inginkan untuknya.
Karena aku menyadari kalau keputusan ini tuh nggak hanya soal sistem pendidikan. Tapi, tentang nilai pendidikan yang kita percaya, dan siapa yang akan mendampingi anakku tumbuh nanti.
Dalam artian, nggak hanya mengajarkan anakku membaca dan berhitung. Tapi, membentuk rasa ingin tahu, kepercayaan diri, dan ketangguhan menghadapi dunia nyata juga.
Inti dari Dilema Ini
Nggak sesederhana mau pilih sistem pendidikan yang ini atau yang itu. Aku percaya, urusan sekolah di rumah bukan hanya soal pelarian dari sistem formal yang dianggap kurang.
Tapi, homeschooling bisa benar-benar jadi solusi pendidikan. Asalkan kupilih dengan sadar dan persiapan yang matang. Nggak hanya sekedar ikut-ikutan tanpa melihat kondisi dan kebutuhan anakku.
Yang paling penting adalah gimana anakku dapat pendidikan yang bisa mendukung perkembangan uniknya. Bukan cuma memenuhi standar atau ekspektasi orang lain.
