Hai Geng! Habis mudik lebaran, pasti banyak banget ide artikel traveling yang nggak sabar buat kalian tulis di blog ya? Tapi, emangnya blog traveling harus banget bahas review wisata mulu?
Hmm… Yuklah kita bahas!
Dulu, tiap kali selesai traveling, aku juga selalu merasa punya satu kewajiban yang nggak tertulis. Harus bikin review tempat wisata yang baru kujelajahi.
Mulai dari perjalanan menuju ke lokasi, harga tiket, jam buka, spot foto terbaik, sampai rekomendasi aktivitas apa saja yang sudah kulakukan dan seru untuk sarana healing.
Aku sampai merasa kalau belum kelar menulis tentang review destinasi wisata, perjalananku kayak belum benar-benar selesai. Bukannya excited, yang tertinggal hanya rasa capek yang kayak nggak ilang-ilang.
Padahal kenyataannya, ‘kan nggak semua perjalanan cocok kujadikan sebagai bahan tulisan artikel review.
Kayak misalnya, ada kok perjalanan yang justru lebih banyak berisi perasaan daripada informasi.
Selain itu, ada juga perjalanan yang nggak punya objek wisata terkenal, tapi malah meninggalkan cerita yang lama tinggal di kepalaku.
Lama-lama aku jadi sadar, kalau traveling itu bukan cuma tentang tempat yang kukunjungi. Traveling juga tentang pengalaman yang bisa kubawa pulang sebagai sebuah kenangan.
Bukankah pengalaman kayak gini juga bisa kutulis sebagai bagian dari ide topik traveling ya, Geng?
Kenapa Travel Blog Nggak Harus Selalu Bahas tentang Review Destinasi Wisata?
Bagiku, pembatasan topik review destinasi wisata untuk blog yang membahas tentang traveling kok kayak mengecilkan ruang berpikirku ya.
Makanya, nggak heran kalau kemudian aku malah masuk ke fase kehabisan ide menulis perjalanan. Padahal kenyataannya, aku baru kelar liburan.
Kok bisa?
Soalnya waktu itu, aku masih merasa kalau setiap perjalanan harus menjadi cerita yang layak ku-review. Masalahnya, kalau tempatnya ternyata kunilai biasa saja, aku malah nggak bisa menulis apapun.
Aku ‘kan punya kebiasaan baca ulang artikel lama yang ada di blogku ya. Lalu, cek artikel mana yang biasanya menarik pembaca organik di Google Search Console.
Eh lha kok, yang paling banyak dapat pembaca bukannya artikel yang berisi review destinasi wisata. Justru, artikel yang berisi cerita sederhana tentang perjalananku yang penuh sama kejadian-kejadian sepele.
Dari situlah aku kemudian paham satu hal. Pembaca datang bukan cuma mencari informasi. Kadang, mereka cuma pingin ikut merasakan pengalaman perjalanan di tempat yang sama lewat ceritaku.
Makanya, aku sampai pada kesimpulan bahwa blog tentang traveling nggak harus selalu berisi panduan wisata. Dan aku punya beberapa rekomendasi ide topik yang menarik tentang perjalanan.
Ide Artikel Traveling yang Lebih Seru untuk Ditulis di Blog
Tulisanku kali ini tentang list ide artikel traveling dari sudut pandang yang berbeda.
Kalian bisa gunakan nanti pas sudah kelar nulis semua review lokasi wisata yang kalian datangi pas libur lebaran. Biar nggak kehabisan ide menulis artikel lagi deh.
Soalnya, ada banyak banget ide tulisan traveling yang lebih hidup, lebih personal, dan jauh lebih menyenangkan untuk ditulis, di antaranya:
1. Cerita di Balik Perjalanan

Harus ku-akui, review lokasi wisata tuh emang tulisan yang paling the best. Apalagi kalau storytelling-nya personal banget dan ‘ngena’ ke pembaca. Bisa jadi keunikan tersendiri dah.
Tapi, jangan lupa! Kadang bagian paling menarik dari sebuah perjalanan bukan hanya tempatnya. Tapi, gimana proses perjalanannya, khususnya kalau ada cerita kejadian yang nggak terduga.
Misalnya, pas pertama kali jalan sendirian ke suatu daerah. Kalian malah salah naik transportasi. Sudahlah makan waktu, eh ngabisin alokasi dana transportasi juga.
Menariknya, kalian malah menemukan hal yang nggak terduga saat nyasar. Momen ini memang nggak ada dalam itinerary kalian, tapi justru paling nempel dalam ingatan.
Aku yakin deh cerita kayak gini bakalan bikin pembaca terhibur dan merasa ikut dalam perjalanan bareng kita.
2. Pelajaran Hidup dari Traveling
Kalau mau peka sedikit, traveling tuh nggak hanya soal healing atau hiburan doang lho, Geng. Ada banyak hal-hal sederhana yang bisa kita pelajari tanpa kita sadari.
Misalnya, kesabaran saat jadwal berubah karena satu atau lain hal. Belajar fleksibel pas ternyata rencana gagal total. Sampai belajar menikmati kesendirian tanpa harus merasa kesepian.
Namanya juga perjalanan. Meskipun sudah ku-rencanakan dengan sebaik mungkin, ada saja kendala di lapangan yang bikin semuanya berubah.
Kalau sudah begitu, kita mana bisa cuma diam saja. Ada tuntutan buat berpikir secara taktis dan kreatif untuk segala perubahan. Benar nggak, Geng?
Tulisan reflektif kayak gini tuh sering terasa lebih hangat daripada review tempat wisata. Coba deh!
3. Realita Traveling yang Jarang Dibahas
Kalau melihat tulisan atau konten tentang traveling yang ada di media sosial, kok ya rasanya sempurna banget ya perjalanannya. Tapi, apa iya memang begitu kondisinya? Belum tentu.
Kenyataannya, alam nggak selalu sesuai dengan harapan kita. Termasuk kondisi politik.
Misalnya nih, kita berniat liburan ke Eropa. Sudah punya tiket, akomodasi, dan itinerary yang menarik. Ternyata, perang di Timur Tengah bikin rencana kacau balau.
Kondisi saat transit membuat kita nggak bisa melanjutkan penerbangan ke negara tujuan. Mending kalau bisa langsung dapat pesawat buat terbang balik ke Indonesia. Lha, kalau masih terlunta-lunta di negara orang.
Sama juga kalau traveling di negara sendiri. Ada kemungkinan hujan yang bikin kita nggak bisa kemana-mana. Belum lagi, kalau ngomongin soal mood.
Aku yakin sih kalau bisa menulis artikel dari sisi realita traveling bakal bikin artikelnya terasa jujur dan lebih relatable.
4. Traveling dari Sudut Pandang Lifestyle
Dulu, kalau pas traveling, fokus utamaku hanyalah ke destinasi wisata. Kayak berapa banyak lokasi wisata yang bisa kukunjungi di kota tujuan.
Meski bikin capek tapi juga bikin semangat di waktu yang bersamaan gitu deh. Kalau nggak gitu ya sambil cari wisata kuliner apa yang khas di sana dan mencobanya.
Sekarang mah fasenya sudah beda. Aku lebih suka mengunjungi satu lokasi wisata yang emang paling pingin ku-datangi.
Terus sisa waktunya ya kupake untuk menikmati kebiasaan kecil. Misalnya, cari cafe, ngopi, nongkrong, jalan tanpa arah tujuan, atau sekedar duduk mengamati keindahan kota.
Yah, sebagai blogger yang kerjanya remote atau ibu bekerja, bukannya traveling justru kayak ruang bernapas di antara rutinitas yang padat ya, Geng?
Kebiasaan kecil yang lebih erat ke arah lifestyle kayak gini tuh bagiku malah bikin ide tulisan muncul tanpa paksaan lho. Cobain deh sesekali!
5. Traveling dan Perubahan Prioritas Hidup
Kalian merasa kayak gini juga nggak sih, Geng? Makin sering bepergian, aku merasa cara memandang hidup kok ikut berubah ya.
Kayak, dulu traveling sudah kayak hadiah gedhe yang harus kurencanakan sejak lama. Sekarang, perjalanan kecil juga udah bisa jadi self reward yang berarti banget.
Dari sini, aku kok mikirin tentang topik soal mindset traveling, termasuk pengalaman mengatur budget liburan, atau alasan kenapa seseorang memilih pengalaman daripada barang.
Menurut kalian, topik-topik kayak gini tuh juga bakalan disukai pembaca ‘kan ya? Share pendapat kalian di kolom komentar ya, Geng!
6. Orang-Orang yang Kutemui Saat Traveling

Yang paling nggak bisa kuhindari saat perjalanan ya bertemu orang-orang. Bahkan saat katakanlah memilih untuk melakukan perjalanan ke alam, kayak gunung, pantai, atau hutan.
‘Kan ada juga orang-orang yang demen melakukan perjalanan ke sana, Geng. Rasanya, sudah nggak ada deh, lokasi se-sepi goa.
Bertemu orang yang kuingat tuh bukan apanya. Ada obrolan singkat dengan kenalan baru. Senyum ramah dari orang asing. Atau malah bertemu teman perjalanan yang asyik.
Meski katakanlah pertemuan itu singkat, tapi kadang malah meninggalkan cerita panjang yang berkesan. Iya nggak, Geng?
Aku kok yakin ya, tulisan yang kayak gini akan selalu punya daya tarik buat pembaca. Soalnya, terasa sangat manusiawi.
7. Traveling Tanpa Pergi Jauh
Bersama teman-teman yang suka nge-blog juga, kayak para Blogger Banjarmasin, aku menyadari kalau traveling nggak selalu berarti pergi jauh.
Entah karena nggak ada waktu senggang atau gimana, aku bisa traveling tanpa harus pergi jauh. Kayak misalnya, menjelajahi kota sendiri, staycation di dalam kota, atau bahkan solo date ke tempat baru.
Tapi, kalian jangan salah ya, Geng! Meski nggak pake pergi jauh, traveling dekat-dekat gini juga menyenangkan lho.
Malah, aku justru sering menemukan cerita seru dan menarik dari tempat-tempat yang sebelumnya kupikir biasa saja.
Dan percayalah! Nggak harus pergi jauh kalau cuma mau menemukan pengalaman baru. Kalian cuma perlu melihat sekitaran dari sudut pandang traveler saja.
Kenapa Ide Artikel Traveling Ini Justru Lebih Disukai Pembaca?
Kalau pertanyaan itu tertuju padaku, dan aku dalam posisi sebagai pembaca, maka jawabannya aku lebih kayak bisa melihat langsung keseruan selama traveling dari apa yang tertulis.
Lagian ya, artikel traveling yang personal biasanya lebih bisa bertahan lama lho. Meskipun, di masa depan nanti, ada perubahan di lokasi wisata yang kita datangi.
Jelas bukan karena informasinya paling lengkap, tapi lebih ke karena pembaca merasa terhubung secara emosional dengan cerita-ceritaku. Aku sih merasanya begitu ya.
Ceritaku nggak bakal cepat basi. Perasaanku yang tertuang dalam artikel juga nggak akan punya tanggal kedaluwarsa.
Kupikir itu juga alasan travel blog tetap hidup. Bahkan saat destinasi wisata terus berubah.
Traveling Itu Cerita, Bukan Sekadar Tempat
Kalau sekarang, pulang dari traveling, aku nggak lagi merasa kudu wajib menulis review lokasi wisata-nya doang. Ada ide artikel traveling yang lain juga.
Aku juga menyelipkan perasaan yang kurasakan saat perjalanan. Kayak pas perjalanan ke Jember akhir tahun lalu, aku juga menuliskan kenapa aku nggak menginap di rumah sodara saja.
Lagian, perasaan tenang selama perjalanan pulang, atau rasa syukur karena sempat menikmati waktu untuk diri sendiri tuh jauh lebih bermakna.
Soalnya, pada akhirnya, yang paling kuingat dari sebuah perjalanan bukan cuma kemana aku pergi. Tapi, cerita apa yang kubawa saat pulang kembali ke rumah.
Dan menurutku, itu jadi salah satu alasan buatku untuk terus menulis tentang traveling. Gimana dengan kalian, Geng?

Sepakaatt bangett mba.
Malah kadang hal² random yg dialami ketika traveling tuh jadi bahan cerita yg menarik yaa
Keinget Trinity Traveler
Doi kan sering nulis hal2 ajaib (ketika plesir) dan justru bukan rebiew tempat wisata
ngehitss banget blognyaaa
nah ini setuju nih, kadang – kadang mamang bingung harus menulis apa lagi gituuu… akhirnya kejebak kedalam tulisan yang sekedar Trip Rpeort, padahal banyak hal lain dari sudut pandang lain yang bisa di tuliskan, padahal sekalinya kita travelling itu dari berangkat sampai pulang banyak yang kita lihat, dengar dan rasakan (kayak judul lagu)
mamang juga tulisannya ngga akan jauh ah, mau cerita tentang alam sekitar aja, siapa tau banyak yang mau baca, hehe….
Kalau dipikir-pikir, memang banyak sekali yang bisa ditulis tentang traveling ya selain riview tempat wisata. Nah aku kepengen banget menulis tentang pengalaman hidup orang-orang yang ditemui saat traveling, namun terkendala bahasa. Atau akunya agak introvert, agak ngeri buka percakapan duluan dengan orang asin. Atau bisa juga kurang percaya diri ya
Waahhh jadi berasa dapet insight baru nie mbaa..biar gak hanya fokus soal review nya saja tapi kejadian di dalamnya kadang bisa jadi tulisan juga ya mbaa yang bisa membuat lebih terhubung dngan pembacanya serasa kita berbagi moment bersama yakkk…
Notedd aku catat dulu krn akhir2 ini lebih fokus ke review tempat sepertinya jadi kurang ada sentuhan personalnya …
Selanjutnya aku bakal bedah deh tiap2 perjalanan apa saja yang aku dapat dalam perjalanannya itu…pas macet pas nyasar dll yaa
Setuju banget mbak. Dan ini yang aku lakuin lho beberapa tahun ini. Soalnya jujur, aku ini aslinya kan jarang kemana-mana. Boro liburan keluar negeri, keluar kota aja aku bisa diitung pake jari kali ya setahunnya cuma berapa kali doang. Kalo kudu full traveling, ya susah.
Makanya kalo aku pribadi, lebih senang menulis apapun yang terjadi dalam perjalananku, sedekat apapun itu. Misal kayak tulisan terakhirku, naik TJ aja itu tuh bisa jadi tulisan kok. Asaaal.. ya dilengkapi juga sama detil dan cerita yang mendukung.
orang-orang ga cuma butuh informasi. mereka butuh cerita hangat, yang takkan mereka temukan dalam AI
Makan siang pake fillet dori
Dorinya enak, empuk teksturnya
Meski tak pernah keluar negeri
Bahas sekitarpun tak ada habisnya
Setuju sih ya, nggak perlu selalu review destinasi wisata, tetapi kadang orang kalau baca artikel tentang apa aja yang terjadi selama perjalanan juga seneng. Apalagi kalau bisa diambil manfaat atau tipsnya. Misal ooo jadi kalau ke destinasi wisata A jangan pas siang nanti panas atau misal ooo nginep di hotel A aja karena hotel B jauh dari lokasi yang dituju, misaaal hehe 😀
Cerita2 seru kyk ketemu orang random, nyasar, juga biasanya orang2 suka baca. Ambil pengalamannya biar bisa menghindari kesalahan serupa ketika traveling sendiri hihihi.
Iya ya dulu pas masih muda rasa2nya traveling tu harus menjelajahi bumi haha, sekarang walau ke kabupaten sebelah aja aku anggep travelingan wkwk 😀
Sebuahhhhh insight tambahan buat diriku nih. Emang sih ya blog traveling itu nyawanya ada pada cerita, bukan sekadar brosur digital.
Saya pribadi sering lebih betah baca kisah “nyasar” atau pelajaran hidup di jalan daripada sekadar info harga tiket yang bisa berubah kapan saja.
Pendekatan humanis begini bikin pembaca merasa punya teman perjalanan, bukan cuma dapet pemandu wisata. Tulisan yang jujur memang nggak akan pernah basi.
Waaah thank youuuu mba. Memberikan POV baru untuk ide tulisan traveling. Krn biar gimana aku kan memang hanya menulis ttg traveling dan kuliner. Bagus juga sih kalau nanti bisa cerita ttg hal2 sepele atau mungkin kebodohan yg pernah dilakukan ketika jalan2 😄.
Setuju, tulisan traveling yg dibuat bagai bercerita apalagi ada personal touch di situ, bikin betah untuk dibaca 👍
Nah, kayaknya ini yang saya alami, Mbak. Kebetulan saya punya blog jalan-jalan. Dan ternyata saya memang fokus menulis tempat wisata yang saya kunjungi. Jadi saat jalan-jalan, tidak banyak yang saya tulis. Akhirnya, saat ini saya tidak lagi jalan-jalan, maka postingan blog saya lama kosong hehehe. Padahal banyak hal yang bisa ditulis dibalik cerita jalan-jalan ya. Termasuk hal-hal sederhana yang ditemuai selama perjalanan. Misalnya saat saya ke Surabaya. Nah, di lampu merah itu ada kakek jualan koran, padahal kakinya hanya satu dan pakai tongkat. Itu membuat saya bersyukur dan harus lebih banyak bersyukur lagi. Contoh lain saat saya salah lihat jadwal pesawat karena ada SMS mendadak. Diberitau pesawat jadwalnya dari pukul 4 sore jadi pukul 5 pm. eh saya kira pukul 5 subuh. Jadilah saya nunggu pesawat 12 jam di Juanda Surabaya hahaha.
banyak ya ternyata ide untuk blog niche travelling ini jadi nggak melulu harus review tempat wisata gitu bisa berupa tips atau hal lainnya yang mungkin bahkan lebih diminati ya sama pembaca
Sepakat mbak, cerita di balik tempat wisata itu sendiri juga menarik, baik perjalanan maupun persiapan nya dan itu lebih menyentuh dan menarik menurutku
Aku masih proses belajar review tempat wisata, lebih sering menikmati perjalanannya tapi lupa untuk foto-foto hehe, jadi seringnya ceritanya kusimpan sendir
Daku setuju kak, apalagi kalau yang dibahas momen nyari² tempatnya terus nggak ketemu, karena ini hal krusial yang sebenarnya kan nggak diharapkan siapa aja kan ya, tapi di situ jadi pembelajaran buat pembaca dan bisa selipkan cara menghadapinya
Blog personal itu menurut saya berisi tulisan dari sudut pandang pribadi. Jadi ketika bercerita tentang perjalanan, yang saya tulis adalah hal-hal yang benar-benar saya alami. Informasi seperti destinasi, transportasi, hotel, atau makanan, itu lebih sebagai pelengkap.
Contohnya, saat menulis pengalaman sailing Komodo, momen yang paling membekas justru bukan detail itinerary, tapi ketika saya memberanikan diri bertemu langsung dengan komodo, dan saat kapal yang kami tumpangi oleng diterjang angin kencang serta ombak tinggi. Rasanya seperti mau tenggelam, sampai saya muntah-muntah dan sempat menulis “wasiat” di layar ponsel yang akhirnya tidak terkirim karena sinyal hilang 😀
Jadi kalau ada yang berharap saya menulis tentang Labuan Bajo ala Wikipedia, maaf, tidak ada ya 😀
Waktu saya ngisi sesi sharing travel blog di hadapan mahasiswa pariwisata, ada yang bertanya, “Bu, bagaimana cara memulai tulisan perjalanan? Apakah langsung membahas akomodasi, transportasi, dan biaya?”
Saya jawab, “Tidak. Mulai saja dari momen atau kejadian yang paling kamu ingat dalam perjalanan itu.”
Intinya, ide menulis traveling bisa dimulai dari hal yang paling membekas secara emosional. Dari situ, cerita akan mengalir dengan sendirinya, dan informasi lain bisa mengikuti kemudian.
Karena pada akhirnya, yang diingat pembaca bukan cuma tempatnya, tapi rasa yang kita ceritakan. Kalau saya begitu.
Aku setuju banget. Soalnya aku pun nggak melulu mengulas tentang satu destinasi wisata sih kalau nulis artikel travelling dan ketujuh listing yang disebutkan kurang lebih yang biasa aku jalankan juga.
Bahkan aku seringnya bepergian di dalam Kota saja atau sekitaran Jabodetabek. Ke luar kota tuh jarang banget, makanya kadang aku review makanan, kopi, yang unik, khas. Lalu tempat-tempat hidden gem dengan segudang pengalaman yang aku peroleh. Lebih personal dan bikin orang atau pembaca penasaran.
Memang harus pintar memilih tema tulisan ya. Semoga blogger Travelling makin pada bersemangat buat nulis lagi, nulis terus, nulis aja.
Yg bisa aku tarik dari tulisan tth ternyata topik itu bisa di maping bener kata tth traveling itu jadinya bukan soal cerita destinasi wisata before after nya juga bisa jadi ide artikel
Nah aku lagi coba nih teh blog walking juga ke beberapa blog , aku coba amati knpa bisa berkembang sekali tulisan nya padhal niche itu sama halnya seperti yg tth tulis diataa
Travelling emang sebuah perjalanan dengan berbagai elemen cerita di dalamnya yang perlu Kita sharing. Pikiran Kita yang traveling juga bisa jadi cerita karena ide cerita dan berbagai angle tulisan adalah pemicu penulisan cerita travelling yang asik
Memang banyak hal yang bisa ditulis dari sebuah perjalanan, baik jauh maupun dekat. Nggak melulu review tempat-tempat yang dikunjungi.
Ide-ide tulisan di atas menarik sih. Saya catat kalau suatu hari bingung mau nulis tentang apa 😁
Sepakat sih kak. Traveling itu cerita, bukan sekadar tempat destinasi wisata. Selama perjalanan, bahkan di tempat wisata itu sendiri, kita pasti punya pengalaman unik. Dan pasti semua org punya pengalaman berbeda terkait perjalanan ke sana.
Di situlah kenangan itu tercipta, dan bahkan kita makin tertarik ke sana hanya dari cerita unik tersebut. Kita bs kepincut ceritanya, fotonya, hingga videonya.
Pertama aku mau setuju dulu Mbak, kalau blog traveling itu nggak harus selalu berisi panduan wisata. Menurutku kalau review itu justru dah banyak jadi bisa cari hal-hal lain. Dulu aku tu nulis traveling kiblatnya Trinity. Dia cuma nulis cerita-cerita unik dari perjalanannya. Walhasil dari 27 negara cuma jadi berapa cerita doang.
Semua tips yang Mbak sebutkan, cocok banget sama yang kupikirkan, terutama kalau aku mungkin orang-orang yang kutemui saat traveling. Aku tu suka ketemu orang baru, mendengar ceerita mereka dan menceritakannya kembali.
Suka banget lagi sama bagian akhirnya, “Traveling itu cerita, bukan sekadar tempat.” Dari sini aja aku jadi kepikiran, cerita apa aja ya yang udah kuhimpun sejauh ini 🙂
Seneng banget dapet insight soal tulisan traveling yang bukan destinasi gini.. Makaciii ya mba.. Blog aku niche-nya kan juga traveling, ya. Kadang memang pernah juga bingung mau nulis apa lagi ya selain tempat yang aku kunjungin.
Dari tulisan ini menarik banget, sih, ada banyak yang bisa dibahas seputar traveling. Aku jadi pingin nulis juga soal cerita orang-orang yang pernah aku temuin pas traveling. Kayaknya aku belum pernah nulis soal itu soalnya hehehe… Kalau tulisan budget biasanya juga banyak tuh yang nyari dan bisa jadi pegangan orang lain pas mau traveling ke tempat yang sama…
Naah ini dia ide-ide tema traveling tanpa harus jalan-jalan. Karena kadang suka ada stuck ide gitu kalau belum traveling lagi. Iya emang betul traveling itu bukan hanya cerita tentang review tempat wisata nya aja. jadi menambah bahan bacaan di tema traveling yang kita tulis.
Jujur, aku butuh banget pengalaman pribadi sang penulis..
Karena bisa jadi rujukan juga kan yaa.. karena biasanya artikel travelling dibaca ketika kita akan menuju ke lokasi tersebut.
Dan paliiiing suka kalo penulis memperkaya tulisannya dengan gambar atau foto dokpri.
Rasanya semakin kebayang suasana di sanaa..