Halo Geng! Sebelum aku ajak kalian buat ngomongin hal random yang cuma dipahami sesama blogger, nggak terlambat dong kalau aku mau mengucapkan selamat hari raya idul fitri. Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir batin ya.
Aku akui, setelah menjadi blogger, kehidupanku berbeda dengan saat aku masih kerja di perkebunan kelapa sawit milik swasta yang ada di Kalimantan Timur.
Dulu mah hidupku kayak terjadwal banget. Pagi habis subuh aku briefing sama mandor buat bagi-bagi kerjaan. Ntar sekitaran jam 7 habis sarapan, aku berangkat ke lokasi pembibitan.
Siang pulang istirahat, sholat, dan makan. Entar sekitaran jam 2 siang, aku nongkrong di kantor untuk menyelesaikan pekerjaan administratif.
Nggak ada istilah drama digital. Mana kepikiran aku sama istilah ide konten. Yang ada di hari-hariku hanya target kerja bahkan saat hari libur dan sinyal internet yang kadang lebih langka daripada hujan di musim kemarau.
Aku sama sekali nggak berpikir bakalan serius jadi terjun di bidang kepenulisan atau lebih tepatnya blogger.
Waktu itu, aku bukannya nggak suka menulis. Malah rasanya, aku sangat rutin menulis meski cuma sekedar ingin menyimpan cerita.
Tentang perjalanan, rasa lelah, dan rasa rindu pada kehangatan rumah.
Tapi, seiring waktu berjalan, bermula dari ajakan seorang sahabat, aku berpikir kalau menjadi blogger bukan sekedar hobi.
Ada fase saat hidupku mulai berubah. Gimana caraku melihat dunia juga ikut berubah.
Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, sekarang tiba-tiba punya potensi jadi tulisan. Dan dari situlah aku menyadari satu hal.
Hal Random yang Cuma Dipahami Sesama Blogger
Ternyata, ada banyak sekali hal random yang cuma dipahami sesama blogger. Sekalipun mereka berada di kota yang berbeda, kayak aku yang di Madura dan Teh Okti yang tinggal di Cianjur.
Hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele bagi orang lain, tapi justru menjadi bagian paling nyata dari kehidupan seorang penulis blog, termasuk prospek profesi content writer.
Apa saja hal random yang cuma dipahami oleh sesama blogger itu?
1. Ide Artikel Datang di Waktu Paling Nggak Masuk Akal

Percaya atau nggak, ide terbaik untuk menulis artikel di blog tuh hampir nggak pernah datang saat duduk manis di depan laptop.
Seenggaknya, itulah yang kurasakan. Mungkin akan berbeda cerita sama blogger Cianjur yang punya akun Instagram Indung Bageur.
Yang jelas, ide menulis artikel bisa mendadak muncul saat:
- mau tidur,
- lagi mandi,
- nungguin makanan matang,
- duduk damai sembari memenuhi panggilan alam,
- atau saat tiba-tiba aku teringat masa kerja di kebun sawit.
Pernah lho, aku tiba-tiba bangun jam satu terus kepikiran buat nulis satu kalimat di notes yang muncul dalam benakku. Akan lebih baik kalau pas besoknya bisa langsung eksekusi artikel buat update blog.
Sayangnya, pas besoknya aku membaca tulisan di notes lagi, aku malah bingung sendiri maksudnya apaan.
Mau kubilang tulisan itu bagian dari journaling, nggak mungkin. Jelas-jelas waktu nulis semalam, aku memikirkan untuk menulis artikel dari tulisan singkat itu.
Aku bukannya nggak berusaha mengingat lagi. Tapi, tetap saja hasilnya nihil.
Gimana? Point pertama hal random ini, kalian yang menekuni dunia blog setuju denganku ‘kan, Geng?
2. Draft Artikel Lebih Banyak daripada Artikel Publish
Mungkin kalau ada yang mau repot-repot nge-cek device-ku buat nge-blog, pasti mengira aku sebagai blogger yang sangat produktif.
Draft artikel yang kutulis ada banyak sekali.
Tapi, tolong jangan tertipu sama jumlah draft artikel! Kalau kalian telusuri lebih jauh, artikel-artikel itu belum sepenuhnya selesai.
Ada yang hampir selesai. Mungkin kurang bagian akhir artikel doang. Kesimpulan-lah istilahnya.
Ada artikel yang berhenti di paragraf kedua. Padahal, heading sudah tersusun dengan rapi. Tapi, emang dasar mood menulis yang tiba-tiba pergi dan menghilang.
Lebih parah lagi, ada yang cuma baru menulis judul doang. Ini persis kejadian kayak penjelasanku di point kemunculan ide sebelumnya.
Ya gitu deh. Akhirnya, draft artikel yang kubuat jadi banyak. Mirip kayak jumlah jalan di perkebunan kelapa sawit saat dulu aku bekerja di sana.
Jumlah main road (MR) dan collection road (CR) – nya banyak. Tapi, nggak semua sudah mengalami perkerasan jalan. Alias suka bikin kendaraan yang melintas amblas.
Meski semua draft artikel itu belum tentu akan selesai menjadi artikel utuh, anehnya, aku selalu nggak tega untuk menghapusnya.
3. Scroll Internet Itu Bagian dari Pekerjaan
Pas kerja di perkebunan kelapa sawit dulu, orang mah nggak akan menganggap aku santai.
Wong, aku bekerja di lapangan. Mengawasi pekerjaan anggota, menyelesaikan tugas administratif lainnya.
Beda sama sekarang. Aku kelihatan santai banget di rumah. Kayak, cuma scrolling handphone (HP) tanpa henti. Pokoknya, sudah nggak ada bedanya sama pengangguran.
Yang mereka nggak tahu, aku bukannya scroll HP tanpa arti. Aku buka blog teman, lihat Pinterest, baca artikel random, scroll video, dan lain-lain tuh sekalian cari inspirasi lho.
Intinya, saat scroll HP di rumah, kadang sambil rebahan, ada banyak proses yang terjadi di kepala. Mulai dari riset, observasi, atau sekedar mencari sudut pandang untuk artikel baru.
Tapi, aku yakin banget. Sesama blogger pasti tahu kalau inspirasi sering datang saat nggak terlihat lagi bekerja. Kayak pas lagi main HP misalnya.
4. Foto Makanan Dulu, Baru Makan

Ini kebiasaan yang dulu nggak pernah terlintas di pikiranku. Waktu tinggal di mess kebun, aku makan ya langsung makan. Meski lagi jalan-jalan saat libur kerja.
Kalau sekarang beda cerita, Geng.
Lagi makan di luar, pas pesenan makanan datang mah kudu wajib ambil fotonya dulu. Bahkan perkara pesan kopi doang pun nggak luput dari dokumentasi.
Cari angle terbaik biar foto makanannya terlihat estetik!
Bagi sebagian orang mungkin terkesan aku hanya mau pamer. Tapi, aku tahu sesama blogger pasti sudah paham isi otakku terhadap foto-foto makanan tersebut.
Iyes. Semua itu amat sangat mungkin menjadi sebuah konten yang bisa ku-posting di artikel.
5. Otak Blogger Nggak Pernah Benar-Benar Libur
Kalian pikir, saat blogger punya waktu luang, kami akan benar-benar liburan dengan santai?
Hanya sesama blogger yang tahu hal random begini. Tahu kalau blogger hidup selalu dalam mode observasi.
Nongkrong dan ngobrol santai bareng teman bisa jadi ide tulisan yang menarik.
Perjalanan liburan buat healing bisa berubah jadi beberapa artikel panjang.
Kenangan lama waktu kerja di kebon sawit pun tiba-tiba menjadi layak untuk kuceritakan dalam sebuah postingan di blog.
Aku juga merasa kadang ini melelahkan. Tapi, coba deh kalian berpikir dari sudut pandang kami sebagai blogger. Semua mode observasi ini kadang terasa menyenangkan lho.
Maksudku, nikmat mana lagi yang bisa kudustakan kalau tulisan perjalanan ternyata bisa mendatangkan klien yang berpotensi sebagai sumber cuan?
6. Perasaan Bahagia karena Statistik Naik, Meski cuma Sedikit
Menurutku, bagian ini yang paling sulit kujelaskan kepada non-blogger. Ntahlah. Mungkin kayak terkesan lebay.
Tapi, percayalah! Bagi seorang blogger, mendapatkan traffic blog itu bukan pekerjaan yang mudah. Perjuangannya nggak main-main.
Makanya, kalau katakanlah traffic naik meski nilainya nggak banyak tuh udah kayak pencapaian besar. Apalagi kalau sampai artikel lama yang tiba-tiba viral.
Bukannya apa sih. Bagi kami, di balik angka kecil itu, ada seseorang yang membaca tulisanku sampai akhir. Dan menurutku, itu selalu terasa spesial.
7. Deadline yang Dibuat Sendiri Tapi Tetap Bikin Panik
Sebagai blogger, aku nggak punya bos. Paling klien doang. Nggak repot urus absensi. Aku bebas mau kerja atau mager-mageran.
Tapi, aku bukannya nggak berkejaran sama deadline ya. Sekalipun deadline-nya kubuat sendiri. Bukannya deadline dari klien.
Uniknya, meskipun aku membuat dan memutuskan deadline sendiri tetap saja aku selalu merasa panik. Sesama blogger pasti tahu benar alasannya.
Apalagi kalau bukan perkara konsistensi. Ini tuh semacam komitmen pribadi gitu lho. Bukan tuntutan dari orang lain.
Dari Jalan yang Bikin Mobil Amblas ke Halaman Blog
Bukan sekali dua kali aku membandingkan hidupku yang dulu dan sekarang.
Dulu, saat masih tinggal di lingkungan perkebunan, setiap hujan aku nggak bisa kemana-mana. Kalau maksa pergi, siap-siap saja ban mobil atau motorku terjebak lumpur jalanan.
Sekarang, aku berjalan di dunia yang serba digital. Merangkai kata demi kata untuk sebuah pekerjaan.
Dan mungkin sebenarnya, masih ada banyak hal random yang cuma dipahami sesama blogger yang lain.
Salah satunya, kita menulis bukan karena harus. Tapi karena selalu ada sesuatu di hidup ini yang terasa sayang kalau nggak kita ceritakan.
Benar nggak, Geng? Sudahlah ya! Segitu dulu cuap-cuapku kali ini. Insha Allah, kita akan bertemu di tulisanku selanjutnya. Sampai jumpa lagi!

Semua difoto dengan alasan buat melengkapi tulisan di blog. Yang terjadi: tulisan entah kapan jadinya dan galeri hape semakin padat dengan stok foto.
Membaca tulisan ini rasanya seperti bercermin. Poin nomor 2 itu paling “relate”, koleksi draf sudah seperti tumpukan kayu di gudang—banyak tapi belum jadi perabot. Memang cuma sesama blogger yang paham kalau rebahan sambil scrolling itu sebenarnya sedang “bekerja” keras mencari inspirasi