Tahun lalu, aku menjual sawahku yang ada di Tanggul. Beberapa waktu lalu, setelah meninggalkan Tanggul sekian lama, aku harus kembali singgah ke Tanggul untuk menyelesaikan urusannya.
Tanda tangan berkas balik nama sawah itu ke pihak yang sudah membelinya. Nggak bisa diwakilkan. Mau nggak mau aku harus berangkat.
Aku nggak mau sendirian kembali ke sana. Malas bertemu keluarga yang di sana. Makanya, aku mengajak seorang sahabat untuk teman perjalanan.
Dari stasiun Gubeng Surabaya, kami naik kereta jam 5. Kebayang ‘kan? Jam segitu masih ngantuk-ngantuknya.
Kami beli camilan untuk bekal di perjalanan. Karena jujurly, aku dan sahabatku adalah duo yang pas banget soal ngemil di perjalanan. Hahaha…
Singkat cerita, sekitar jam setengah 10 kereta kami merapat di Stasiun Tanggul. Masih ada waktu sekitar 2 jam sebelum bertemu dengan pihak pembeli.
Brunch saat Singgah ke Tanggul Setelah Sekian Lama
Waktu sarapan sudah lewat, tapi aku dan sahabatku hanya ngemil camilan doang. Itu pun nggak cukup bikin kami kenyang.
Yo weslah. Begitu keluar dari stasiun, kami mencari tempat makan untuk kami sarapan yang terlambat. Kalau mau pakai istilah kerennya tuh brunch gitulah.
Ketemulah sama warung makan yang namanya persis sama namaku. Mbak Yuni. Malah, aku sempat kaget karena ada yang manggil namaku padahal manggil mbak yang jual. Hehehe…
Di sana ada nasi pecel, yang cukup aman sama selera kami. Emang sih bukan warung legendaris. Bukan juga tempat yang viral. Tapi, ya cukuplah untuk menenangkan cacing-cacing dalam usus.
Persinggahan Pertama: Makam Habib Sholeh Tanggul

Habis makan, perut sudah kenyang, aku memutuskan untuk menunggu pembeli sawahku di Makam Habib Sholeh Tanggul. Sekalian berwisata religi dan mengingatkanku akan masa lalu.
Yah, aku dulu sering mengaji di sini bersama bapakku. Biasanya, tiap malam jum’at. Kali ini, aku datang ingin melepas lelah sekalian mengaji sebentar.
Rasa penat, letih, dan pusing selama perjalanan seperti hanyut oleh air yang dingin. Bikin tubuhku fresh dan pikiranku jadi lebih tenang. Suasananya juga adem. Sahabatku bahkan mengambil waktu yang lama sekali untuk mandi.
Meski bukan bagian dari travel blogger Balikpapan, rasanya aku dapat ide untuk menuliskan cerita perjalanan ini di blog. Semacam ada lampu yang tiba-tiba berpijar gitu deh setelah selesai membaca Yasin.
Namun, sebelum bahas tentang persinggahan untuk traveling ke Tanggul kali ini. Mari kita selesaikan urusan yang penting terlebih dahulu.
Urusan Selesai, Fase Hidup Bergeser
Setelah itu, barulah aku bertemu dengan pihak pembeli sawah. Proses tanda tangan berjalan lancar. Nggak dramatis, nggak ada juga emosional berlebihan.
Hanya saja, kami memang harus menunggu lebih lama karena notaris yang bertugas masih menyelesaikan urusan pengukuran sawah di tempat lain.
Setelah semua urusan jual-beli sawah beres, aku merasakan perasaan lega. Meski sedih itu ada, karena aku melepas kepemilikan sawah dengan terpaksa karena kondisi tertentu.
Ya sudahlah. Apa-apa yang nggak ditakdirkan untuk kita akan terlepas pada akhirnya.
Hidup memang jarang berjalan seperti feed Instagram. Ada hari-hari yang sunyi, keputusan yang berat, dan proses yang nggak bisa kupercepat.
Persinggahan Kedua: Bakso dengan Konsep Prasmanan
Hampir jam 2 siang, semua urusan baru selesai. Pihak pembeli bertanya tentang makan siang apa yang ingin kami nikmati.
Saat itu, kami sedang ogah makan nasi. Terus ya udah, yang beli sawahku memilihkan bakso untuk makan siang.
Kami pun dibawa ke bakso prasmanan yang ada di jalan Semboro, dekat sama minimarket. Lumayan. Satu lagi lokasi yang bisa kutuju buat makan saat singgah ke Tanggul berikutnya.
Katanya sih kedai bakso prasmanan di sini baru buka gitu. Nggak heran, pas aku ke sana situasinya lagi rame banget. Antriannya mengular. Terus tempat dine in-nya pun hampir penuh.
Kami memilih bakso apa saja yang ingin kami makan. Ada banyak ragamnya. Aku sih milih, bakso polos, bakso isi telur, dan bakso mercon. Nggak lupa, aku juga ambil gorengan dan bihun.
Kuahnya ada dua pilihan. Pedas dan biasa. Aku pilih kuah yang biasa. Aku nggak tahan kalau terlalu pedas.
Sahabatku jangan ditanya. Dia yang hobi banget lidahnya kebakar sama makanan pedas tentu memilih kuah pedas.
Soal rasa, aku sih mikirnya nggak ada yang istimewa. Hanya saja, dari obrolanku dan Mbak Luluk, sahabatku, yang bikin warung bakso ini ramai tuh karena konsepnya prasmanan.
Pembeli dengan leluasa mengambil apa yang mereka mau dan berapapun porsi yang ingin mereka makan.
Nggak heran kalau pembelinya cukup beragam. Ada yang memang ingin makan dan aku yakin ada juga yang cuma makan karena ingin menjadikannya sebagai konten.
Nggak bisa kupungkiri sih. Konten kuliner begini tuh sama kayak konten beauty blogger Balikpapan. Punya target penontonnya sendiri dan masih cukup ramai.
Perut sudah kenyang, kami pun berpisah dengan pihak pembeli. Berikutnya, kami siap untuk melanjutkan napak tilas kenangan masa lalu sewaktu aku masih sekolah di sini.
Persinggahan Ketiga: Alun-Alun Tanggul

Setelah perut kenyang, aku mulai menyusuri tempat-tempat yang dulu pernah jadi bagian hidupku. Salah satunya adalah Alun-Alun Tanggul.
Dulu, tempat ini rutin jadi lokasi olahraga waktu aku masih sekolah di SMPN 03 Tanggul. Kalau ada yang bertanya, kenapa kami olahraganya malah di lapangan yang ada di alun-alun, maka aku nggak punya jawaban yang pasti.
Tapi, sejauh yang bisa kuingat, sekolahku tuh langsung menghadap jalan besar. Fasilitas olahraganya hanya ada lapangan basket dan lapangan voli. Nggak tahu kalau sekarang.
Setiap tingkatan ada 6 kelas. Kalau dijumlahkan, totalnya ada 18 kelas. Dengan begitu, setiap jam olahraga biasanya bukan hanya ada satu kelas saja.
Sehingga, kalau sudah lapangannya sudah digunakan sama kelas lain, maka kelasku akan menggunakan lapangan yang ada di alun-alun. Karena memang lokasi sekolahku dengan alun-alun berdekatan.
Sekarang aku berdiri di tempat yang sama, tapi dengan peran yang berbeda.
Alun-alunnya masih ada. Pohon beringinnya masih berdiri kokoh. Aku yang sudah berubah. Bukan lagi sebagai siswa, tapi sebagai turis yang menikmati suasana.
Rasanya, duduk di alun-alun Tanggul, melihat orang-orang berlalu-lalang, pedagang makanan sibuk menyiapkan pesanan pembeli, dan lain-lain akan memberikan sedikit inspirasi.
Persinggahan Keempat: Pemandian Patemon

Puas nongkrong di alun-alun kota Tanggul, aku dan Mbak Luluk bergerak lagi ke lokasi selanjutnya. Rencananya sih mau menginap di hotel saja.
Nggak. Ini bukan lokasi yang mengundang kenangan masa lalu. Tapi, tempat yang kami lewati saat ke sanalah yang membawaku ke masa-masa SMP kala itu.
Salah satu kolam renang yang ada di Tanggul.
Apa asyiknya sih, Yun? Cuma kolam renang doang ‘kan?
Elah. Kalian nggak tahu sih, betapa dulu pemandian ini tuh ramai banget. Apalagi pas aku masih SMP. Setiap mau healing, aku dan teman-temanku pasti ke sini.
Sepanjang yang kuingat, ada tiga kolam renang di sini`. Kolam nomor 1 tuh dalam banget. Aku lupa berapa meter persisnya. Tapi, saranku kalau kalian belum jago berenang, jangan berani-berani nyoba kolam yang ini.
Kolam nomor 2, so so lah. Agak dalam tapi buat yang belum jago-jago amat kayak aku, masih bisalah main air di sini.

Kolam nomor 3 mah buat bocah. Cetek. Kagak dalam sama sekali. Pas adik bungsuku masih SD, sempat juga kuajak ke sini. Happy banget dia kayak mbaknya dulu.
Biasanya, habis berenang, aku akan makan mie dalam kemasan cup gitu. Kali ini, aku nggak masuk ke sana. Tapi, aku yakin, setelah berenang, pikiran kalian akan lebih tenang dan diam-diam inspirasi buat konten atau tulisan akan menyapa dengan mudah.
Persinggahan Kelima: Hotel di Jember

Demi menghindari saudara-saudara sepupuku dari pihak bapak saat singgah ke Tanggul, aku memilih untuk menginap di hotel. Lokasinya, lumayan dekat dengan stasiun Jember.
Aku berpikir biar besoknya kami nggak perlu buru-buru mengejar jadwal keberangkatan kereta yang membawa kami balik ke Surabaya.
Dari alun-alun Tanggul, kami naik bis mini. Duduk di kursi penumpang yang ada di depan. Aku melewati sekolahku yang dulu, arah ke Pemandian Patemon, dan aku menunjukkan semuanya ke sahabatku.
Begitu sampai di hotel, kami langsung check in dan beristirahat. Ternyata, capek juga mengurus balik nama sawah.
Kamar kami di lantai dua. Dari jendela, kami bisa melihat gunung di kejauhan. AC-nya yang dingin membuat istirahat kami menjadi nyaman sekali.
Ada kursi yang bisa kugeser ke dekat jendela untuk bisa menikmati pemandangan. Dengan begitu, aku akan lebih mudah mencari inspirasi untuk tulisan review hotel yang mungkin akan kutulis di blogku yang lain.
Tentang Singgah ke Tanggul dan Melanjutkan Hidup
Hari itu aku nggak benar-benar pulang ke kampung halaman bapakku. Aku hanya singgah ke Tanggul. Menyelesaikan urusan, menyapa kenangan, dan mengisi ulang diri.
Tanggul mengajarkanku satu hal sederhana. Hidup bukan soal terus bergerak atau terus mengenang, tapi tahu kapan harus berhenti sebentar lalu melanjutkan perjalanan dengan kondisi hati yang lebih ringan.
Kalau kalian sedang berada di fase hidup yang penuh urusan, mungkin kalian juga nggak butuh liburan jauh-jauh. Cukup satu hari untuk singgah. Di kota kecil, di warung nasi pecel, atau di dalam dirimu sendiri. Lalu lanjutkan hidup. Dengan napas yang lebih tenang.

Perjalanan mengenang masa lalu, yang terkenang tentunya ada yang menyenangkan dan ada juga yang kurang menyenangkan ya mbak.
Saya pernah naik kereta dari Tanggul, tapi nggak sempat ziarah ke makam Habis Sholeh
Semoga dengan selesainya urusan di Tanggul, membawa keberkahan buat Mba Yuni .. Sehat dan sukses selalu.
Btw, di awal ku sempat bingung Tanggul itu dimana hehe, ternyata bener tebakanku, di Kabupaten Jember.
Waktu aku kecil-remaja liburan sering ke Lumajang (perbatasan dengan Jember) ke rumah Paklikku di sana, jadi aku tahu Tanggul
Wah keren kak, punya simpanan sawah. Bisa jadi investasi yg bermanfaat di masa depan ya.
Di mana Tanggul, auto searching sebelum baca tuntas, ternyata di Jember
soalnya baru tau tentang Tanggul ini juga makam Habib Sholeh
ternyata banyak tempat wisatanya
hehehe tentang hubungan persaudaraan, emang sebaiknya gak terlalu deket ya?
Dengan berjauhan kita bisa meminimalisir “dosa” 😀
Sepanjang membaca sembari bertanya-tanya, di manakah letak Tanggul ini. Beruntung nemu jawaban di komen-komen sebelumnya, ternyata di Jember, ya.
Kembali ke tempat kita dibesarkan pasti membawa sejuta cerita. Ada tempat-tempat yang pernah kita tapaki dengan segala kenangannya, ada juga memori dengan orang-orangnya yang mungkin indah atau bahkan menyakitkan. Apapun itu semoga sekarang kita semua bisa berdamai dengan kehidupan dan melanjutkannya dengan hati yang luas
Membaca tulisan ini serasa ikut diajak jalan-jalan naik kereta jam 5 pagi. Kadang, melepaskan sesuatu yang pernah jadi milik kita memang butuh keberanian besar, tapi senang sekali melihat Mbak Yuni bisa “berdamai” lewat napak tilas ke alun-alun dan makam Habib Sholeh. Setuju banget, hidup memang bukan soal terus mengenang, tapi tahu kapan harus melangkah maju. Sehat selalu untuk Mbak dan sahabatnya!
Melepas sawah karena kondisi terpaksa. Duh, jadi sedih bacanya. Insya Allah nanti dapat ganti yang lebih baik di tempat yang lebih baik.