Pertama kali aku tertarik sama journaling tuh gara-gara lihat punya teman-teman yang bertebaran di media sosial. Pengen buat, tapi gimana? Aku bahkan nggak punya perlengkapan journaling untuk pemula.
Alih-alih mulai menulis, aku malah sibuk sendiri mencari perlengkapan. Pengennya notebook dengan sampul yang lucu, pulpen warna-warni, sticker, sampai washi tape.
Pokoknya, aku berharap bisa membuat jurnal estetik yang kaya punya mereka. Terus gimana kelanjutannya? Dapat semua perlengkapannya?
Dapatnya sih dapat. Tapi, jurnalnya tetap kosong-melompong. Efek terlalu fokus sama alat journaling yang dibutuhkan tanpa memikirkan kebiasaan menulis nih aku, Geng.
Kenyataannya, menulis jurnal mah sederhana saja. Asal ada kemauan yang kuat, modal buku tulis biasa sama pulpen juga sudah cukup kok. Akunya saja yang banyak mau.
Jadi, kalau kalian baru memulai journaling, nggak perlu langsung membeli semua perlengkapan yang terlihat estetik, Geng.
Aku bakalan menyebutkan semua perlengkapan journaling di artikel ini. Tenang saja! Aku juga akan menambahkan mana perlengkapan yang benar-benar kalian butuhkan dan mana yang sifatnya hanya pelengkap.
Banyak Orang Menunda Journaling karena Perlengkapan
Aku setuju dengan pernyataan ini. Soalnya, aku juga pernah merasa seperti itu. Pengen menulis jurnal, tapi nggak punya perlengkapan yang kupikir bakal bikin jurnalku estetik kayak yang di media sosial.
Coba pikirkan deh, Geng! Emangnya, peralatan yang katanya bikin jurnal estetik itu syarat utama untuk mulai menulis? ‘Kan nggak.
Makanya, nggak usah FOMO melihat jurnal yang cantik di medsos. Halaman yang penuh warna, lengkap sama stiker, foto, dan tulisan yang rapi nggak perlu jadi acuan kita untuk menulis jurnal.
Nggak papa banget kok mulai journaling meski belum punya perlengkapan lengkap. Pake buku tulis biasa sama pulpen juga sudah lebih dari cukup.
Ketimbang terus-terusan menunda journaling. Padahal, ada banyak hal yang sangat ingin kalian luapkan dalam tulisan. Entah itu, hati yang gundah, cerita traveling yang sangat menyenangkan, sampai ide untuk artikel blog.
Gini deh, Geng! Kalian pilih semua cerita itu menguap dari ingatan karena nggak punya perlengkapan journaling yang lengkap atau tulis saja dulu apa adanya dan kalian tetap bisa bersama mereka hingga nanti-nanti?
Ya sudah sih. Kalau kalian masih merasa harus punya perlengkapan tertentu sebelum menulis, baca saja artikelku yang kutulis sebelumnya tentang mitos journaling.
Percayalah, Geng! Kenyataannya nggak sesulit itu kok.
Kesalahan Pemula Saat Membeli Perlengkapan Journaling

Wajar kok sebagai pemula melakukan kesalahan saat mau journaling, khususnya di momen saat membeli perlengkapannya.
Makanya, aku menuliskan semua kesalahannya di artikel ini. Biar kalian, sebagai pemula, nggak melakukan kesalahan yang sama.
1. Terlalu Fokus pada Barang, Bukan Kebiasaan Menulis
Aku dulu menghabiskan waktu berjam-jam cuma buat scrolling marketplace demi mencari notebook buat journaling yang cocok sama seleraku.
Banding-bandingkan merek satu dengan yang lainnya. Ceki-ceki ulasan stationery.
Notebook-nya sih dapat. Tapi, aku nggak berhenti mencari. Aku masih terus hunting banyak perlengkapan yang lainnya cuma gara-gara habis nonton video journal setup.
Akibatnya, boro-boro bisa menulis jurnal secara konsisten sesuai ritme menulisku. Halaman pertama notebook-ku masih mulus. Nggak ada isinya sama sekali. Amazing ‘kan, Geng?
Menurutku, ketimbang sibuk menghabiskan waktu buat mengumpulkan alat journaling yang dibutuhkan, mending tetapkan kebiasaan menulis kalian dulu dengan peralatan seadanya.
2. Membeli Terlalu Banyak Sekaligus
Kalau kalian sudah rutin menulis jurnal, pasti tahu banget kalau nggak semua alat journaling akan kalian gunakan. Benar nggak, Geng?
Notebook sudah pasti. Pulpen juga. Highlighter masih mungkin kepake.
Tapi, stiker? Brush pen? Washi tape? Atau printer mini deh tuh. Yakin deh. Kalian nggak akan terlalu butuh setiap kali menulis jurnal. Paling di momen-momen tertentu saja. Kalau apa yang kalian tulis di jurnal sesuai.
Saranku sih, daripada menunggu alat menulis jurnal kalian lengkap, mending ya menulis dulu saja. Terus, kumpulkan atau beli peralatan lainnya sambil lalu.
3. Mengikuti Tren Tanpa Memikirkan Kebutuhan
Kubilangin ya, Geng. Setiap orang tuh punya gaya journalingnya masing-masing.
Aku misalnya. Lebih suka membuat daftar. Ada yang senang menulis cerita. Ada yang gemar menghias halaman. Yang cuma mencatat kegiatan harian yo banyak.
Dari semua gaya itu, alat journaling yang dibutuhkan pasti berbeda. Makanya, sebelum membeli peralatan apapun, mending kalian kenali dulu jenis-jenis journaling.
Dengan begitu, kalian nggak akan mudah tergoda membeli perlengkapan yang sebenarnya jarang dipakai.
Perlengkapan Journaling untuk Pemula
Menurutku, perlengkapan journaling sebenarnya nggak sebanyak yang sering kita lihat di media sosial kok. Ada beberapa alat yang memang penting untuk memulai, sedangkan sisanya bisa kalian beli nanti kalau memang butuh.
Kalau baru pertama kali mencoba, fokus saja pada perlengkapan dasar terlebih dahulu.
1. Media Journaling
Hal pertama yang perlu kalian tentukan adalah media yang ingin kalian gunakan. Untungnya sih, pilihannya cukup banyak, di antaranya:
- Notebook. Praktis. Mudah kalian bawa ke mana-mana. Dan rasanya lebih nyaman saat menulis dengan tangan.
- Sketch Book. Media ini cocok untuk membuat art journal, visual journal, atau jurnal yang bisa kalian penuhi sama ilustrasi-ilustrasi sederhana.
- Aplikasi Journaling. Kalau lebih sering bekerja menggunakan laptop atau ponsel, aplikasi digital juga bisa jadi pilihan. Misalnya, bisa pakai aplikasi catatan bawaan, Google Docs, Notion, atau aplikasi journaling khusus.
- Scrapbook. Kalau kalian senang menyimpan kenangan dalam bentuk foto, tiket, atau brosur, scrapbook bisa menjadi media yang menyenangkan.
Yang terpenting adalah memilih media yang bisa bikin kalian nyaman dan konsisten menulis.
Misalnya setelah traveling, kalian bisa menempel tiket kereta, foto, atau struk dari tempat makan favorit di scrapbook. Lalu menambahkan cerita singkat tentang pengalaman tersebut.
Atau kalau kalian hobi membaca dan sering membuat book review, kalian juga bisa menyelipkan kutipan favorit dari buku yang baru selesai dibaca sebagai pelengkap halaman jurnal di notebook.
Kalau sebelumnya kalian masih bingung menentukan media yang paling cocok, artikel cara memulai journaling untuk pemula mungkin bisa memberikan gambaran sebelum benar-benar mulai.
2. Pulpen yang Nyaman
Kalau mau ambil sebuah perumpamaan, maka kubilang notebook adalah rumahnya jurnal. Sementara itu, pulpen adalah teman terbaiknya.
Oleh karena itu, pilihlah pulpen yang paling nyaman untuk kalian gunakan! Bukan cuma karena harganya yang mahal lho, Geng.
Coba deh kalian bayangkan! Kalau seandainya kalian menulis untuk waktu yang cukup lama. Bukankah kenyamanan genggaman dan kelancaran tinta bakal jauh lebih terasa ketimbang desainnya?
Kalau kalian tanya ke aku. Jelas, aku lebih suka pulpen dengan tinta yang mengalir lancar dan nggak mudah bikin tangan pegal. Soalnya, capek sedikit saja tulisanku bisa ganti gaya, Geng.
Sebenarnya, nggak harus membeli pulpen khusus buat menulis jurnal juga sih. Kalian selalu bisa pakai pulpen yang sudah ada di rumah.
Baru deh, kalau nanti sudah ketemu gaya menulis yang cocok, kalian bisa eksperimen dengan berbagai jenis alat tulis lainnya.
3. Tempat Menyimpan Journal agar Tetap Awet (Opsional)
Bagian ini sebenarnya nggak wajib, tapi aku yakin akan cukup berguna kalau nanti kalian sudah mulai punya lebih dari satu jurnal. Kenapa?
Soalnya, notebook yang disimpan dengan baik biasanya lebih awet dan tetap rapi.
Tempat penyimpanannya nggak usah yang istimewa banget. Pakai rak buku, kotak penyimpanan biasa, pouch, atau buat laci khusus juga nggak masalah kok. Yang penting nggak gampang kena debu.
Perlukah Membeli Perlengkapan Journaling yang Estetik?

Perlu dan nggak perlu sih, Geng.
Gini lho, aku pernah tergoda melihat perlengkapan journaling yang lucu-lucu. Rasanya pingin kubeli semua karena kupikir pasti bakal bikin lebih semangat menulis jurnalnya.
Kenyataannya, nggak begitu juga sih.
Aku pernah melihat seseorang yang punya koleksi notebook yang sangat cantik, stikernya bagus-bagus, ada highlighter juga, lengkaplah pokoknya, tapi hampir semua halamannya masih kosong.
Sebaliknya, ada yang cuma pakai buku tulis biasa. Sampulnya bahkan sudah mulai kusam. Menariknya, jurnal miliknya isinya penuh dengan cerita, pengalaman, dan perjalanan hidup yang berharga.
See! Kalian lihat dong perbedaannya! Menurutku, jurnal yang penuh tulisan jauh lebih indah daripada notebook mahal yang hanya tersimpan di rak.
Jadi, kalau saat ini kalian belum punya perlengkapan journaling yang estetik, nggak usah minder. Mulai saja dengan apa yang sudah ada.
Nanti, kalau kebiasaan menulis sudah terbentuk, kalian bisa menambah perlengkapan sedikit demi sedikit sebagai bentuk apresiasi untuk diri sendiri.
Perlengkapan Journaling Tambahan yang Boleh Kalian Miliki
Kalau perlengkapan sebelumnya bisa kubilang cukup untuk memulai journaling, maka beberapa alat berikut sifatnya hanya pelengkap.
Artinya, kalian boleh punya kalau memang suka. Kalau nggak punya pun nggak jadi masalah.
1. Highlighter
Highlighter cocok kalian gunakan untuk menandai kalimat penting atau bagian yang ingin lebih mudah kalian temukan saat membuka kembali jurnal.
Misalnya, kalian ingin menandai target bulanan, kutipan favorit, atau momen yang paling berkesan.
Selain bikin halaman jurnal lebih menarik, highlighter juga membantu informasi penting lebih mudah terlihat.
2. Brush Pen atau Dual Tip Marker
Kalau kalian senang bikin judul yang lebih artistik atau menghias halaman jurnal, brush pen bisa menjadi pilihan.
Aku sendiri nggak terlalu sering pakai.
Namun, untuk bikin halaman pembuka bulan baru atau menulis kutipan favorit, brush pen memang memberikan sentuhan yang beda sih, Geng.
3. Washi Tape
Menurutku, washi tape adalah salah satu perlengkapan yang paling menyenangkan.
Motifnya beragam dan mudah kalian gunakan untuk menghias pinggiran halaman, membingkai foto, atau sekadar memberikan aksen warna.
Yang aku suka, washi tape juga mudah kalian lepas tanpa merusak kertas. Asyiklah pokoknya.
4. Sticker
Ini solusi banget buatku kalau pingin halaman jurnalku lebih menarik. Nggak perlu menggambar, karena aku memang nggak ahli menggambar, cuma perlu menempelkan.
Biasanya, aku bakal pilih desain yang sesuai sama ceritaku. Kalian juga bisa memilih desain yang sesuai dengan kepribadian atau tema jurnal yang sedang kalian buat.
5. Lem atau Tape Runner
Perlengkapan ini berguna kalau kalian sering menempel foto, tiket, kartu pos, atau potongan kertas ke dalam jurnal.
Ketimbang lem cair, tape runner biasanya lebih rapi dan nggak bikin halaman jadi bergelombang. Estetiklah ceritanya.
6. Sticky Notes atau Memo
Kadang ada ide yang muncul secara tiba-tiba saat sedang sibuk.
Daripada lupa, kalian bisa menuliskannya di sticky notes terlebih dahulu, lalu memindahkannya ke jurnal saat punya waktu luang.
Selain itu, sticky notes juga bisa kalian gunakan sebagai penanda halaman yang sering kalian buka.
7. Correction Tape
Meskipun banyak orang memilih untuk membiarkan saja kesalahan tetap ada sebagai bagian dari proses journaling, nggak sedikit juga yang lebih nyaman pakai correction tape.
Menurutku, nggak ada yang salah dengan itu.
Kalau correction tape bikin kalian lebih percaya diri saat menulis, pakai saja. Jangan sampai takut salah justru bikin kalian enggan mulai menulis!
8. Perlengkapan Custom Lainnya

Seiring waktu, mungkin kalian ingin menambahkan sentuhan yang lebih personal.
Misalnya dengan menggunakan stamp favorit, menyelipkan foto Polaroid, kartu ucapan, daun kering, atau tiket konser yang punya kenangan tersendiri.
Hal-hal kecil kayak ini justru bikin jurnal terasa lebih bermakna saat kalian buka kembali beberapa tahun kemudian.
9. Printer Mini
Belakangan ini printer mini cukup populer di kalangan pecinta journaling.
Ukurannya kecil, mudah dibawa, dan praktis untuk mencetak foto, kutipan, atau gambar sederhana.
Namun, menurutku printer mini bukan perlengkapan yang wajib kalian punya.
Kalau memang suka bikin scrapbook atau memory journal, alat ini bisa jadi investasi yang menyenangkan.
Sebaliknya, kalau lebih sering menulis ketimbang menghias halaman, kalian nggak perlu terburu-buru membelinya.
Jangan Beli Semua Sekaligus, Pilih Perlengkapan Sesuai Gaya Journaling Kalian
Kalau aku boleh memberi satu saran untuk pemula, maka kubilang jangan kalap saat melihat perlengkapan journaling yang lucu!
Iya. Aku tahu kok. Betapa menariknya ketika melihat stiker yang lucu. Washi tape yang cantik. Rasanya, pingin checkout semua.
Padahal, belum tentu semuanya benar-benar kalian pakai. Menurutku, lebih baik membeli perlengkapan secara bertahap.
Mulai dulu dari notebook dan pulpen. Kalau sudah mulai rutin menulis, baru dah tambahkan highlighter, stiker, atau perlengkapan lain yang memang sering kalian gunakan.
Selain lebih hemat, cara ini juga membantu kalian mengenali gaya journaling sendiri. Misalnya, kalau ternyata lebih suka menulis panjang, mungkin kalian nggak butuh banyak stiker.
Sebaliknya, kalau senang bikin scrapbook atau menghias halaman, perlengkapan dekorasi bisa jadi pilihan yang tepat.
Dengan begitu, setiap barang yang kalian beli benar-benar akan kalian gunakan. Bukan cuma berakhir jadi koleksi.
Yang Terpenting Bukan Peralatannya
Semakin lama menulis jurnal, semakin aku percaya bahwa yang bikin journaling terasa bermakna tuh bukan karena harga notebook atau banyaknya perlengkapan yang kalian miliki. Melainkan cerita yang kalian tuliskan di dalamnya.
Satu halaman yang berisi pengalaman hari ini akan jauh lebih berharga ketimbang notebook mahal yang masih kosong.
Begitu juga dengan tulisan yang sederhana. Nggak usah memaksakan untuk puitis. Nggak rapi pun boleh. Mau tanpa hiasan juga nggak papa.
Karena pada akhirnya, jurnal adalah tempat untuk menyimpan perjalanan hidup kalian sendiri. Bukan untuk membandingkan diri dengan orang lain.
Jadi, jangan sampai keinginan punya perlengkapan journaling yang sempurna justru bikin kalian lupa pada tujuan utama journaling, yaitu mulai menulis.
Kesimpulan
Perlengkapan journaling memang bisa bikin pengalaman menulis terasa lebih menyenangkan. Namun, bukan berarti kalian harus membeli semuanya sejak awal.
Mulailah dari perlengkapan yang benar-benar kalian butuhkan, kayak media untuk menulis dan pulpen yang nyaman.
Setelah kebiasaan journaling mulai terbentuk, kalian bisa menambahkan perlengkapan lain sesuai kebutuhan dan gaya masing-masing.
Yang terpenting, jangan biarkan daftar belanja jadi alasan untuk menunda menulis jurnal.
Soalnya, jurnal yang paling berharga bukanlah jurnal dengan perlengkapan paling lengkap, tapi jurnal yang benar-benar berisi cerita, pelajaran, dan momen yang pernah kalian alami.
Kalau hari ini kalian sudah punya sebuah buku kosong dan satu pulpen di rumah, sebenarnya itu sudah lebih dari cukup. Tinggal buka halaman pertamanya, lalu mulailah menulis, Geng!
