Udah capek-capek promosi, rutin bikin konten, ngikutin berbagai strategi marketing yang ada. Eh, hasilnya cuma segitu-gitu doang. Ada yang pernah mengalami hal ini juga nggak, Geng?
Bukannya nggak ada yang like postingan-postingan itu ya. Yang nanya-nanya produknya juga ada. Tapi, yang benar-benar beli itu lho. Dikit banget.
Kalau kalian lagi berada di titik ini, saranku jangan langsung menyalahkan produknya deh. Bilang produknya nggak baguslah. Atau malah menyalahkan diri sendiri yang nggak jago jualan.
Soalnya, bisa jadi masalahnya nggak di situ. Coba deh tebak apa masalahnya, Geng?
Yupz. Masalahnya tuh kelihatan sepele, tapi punya dampak yang gedhe banget. Target market bisnis yang belum tepat.
Apa Itu Target Market Bisnis
Sederhananya begini, target market bisnis adalah sekelompok orang yang paling mungkin terbantu dengan adanya produk atau jasa yang kalian tawarkan.
Dalam hal ini berarti bukan semua orang. Bukan juga siapa saja yang lewat. Tapi, orang yang saat melihat bisnismu, mereka akan langsung berpikir, kalau itu cocok buat mereka.
Sehingga, kalau boleh kubilang, target market tuh nggak cuma ngomongin soal usia, jenis kelamin, atau domisili. Lebih dari itu, target market adalah tentang:
- masalah apa yang mereka rasakan,
- keresahan apa yang sering muncul di kepala mereka,
- dan harapan apa yang diam-diam mereka simpan.
Kalau kalian ingin pemahaman dasar yang lebih rapi, nanti kalian bisa lanjut baca artikelku yang ini, ya:
- Apa Itu Target Market dan Kenapa Bukan Sekadar Usia & Gender
Kenapa Menjual ke Semua Orang Justru Membuat Bisnis Mandek

Mungkin banyak yang berpikir kalau menjual ke semua orang tuh terdengar aman. Kayak, nggak membatasi diri. Nggak menutup semua peluang.
Tapi, tahu nggak sih, Geng? Di dunia nyata, strategi ini tuh sering jadi boomerang lho. Tanya kenapa?
1. Pesan Bisnis Jadi Terlalu Umum
Saat kalian ingin menjangkau semua orang, maka pesan kalian otomatis jadi netral. Terkesan aman. Tapi, sayangnya akan terdengar hambar.
Nggak akan ada orang yang merasa “dituju secara personal”. Ya udah. General aja gitu.
Terus, apa yang kalian harapkan dari pesan yang seperti itu? Menarik perhatian customer? In your dream!
2. Promosi Capek, Tapi Konversi Kecil
Mau gimanapun usahanya, yang namanya promosi tuh butuh energi yang besar. Mikirin konsep promosinya.
Yah, meski kontennya bernada general yang bisa menjangkau semua orang. Tetap saja, akan bikin kalian puyeng. Malah semakin puyeng karena nggak ada batasan.
Sayangnya, effort yang gedhe ini nggak diimbangi sama hasil yang setara. Ibaratnya nih, kalian bisa hadir di mana-mana, tapi dampaknya nggak kemana-mana.
3. Brand Sulit Diingat
Sering bermain di koridor umum, bikin kalian nggak punya ciri khas audiens. Apa yang terjadi selanjutnya?
Brand-mu akan lebih mudah tergeser. Hari ini mungkin ada yang ingat. Besok sudah terlupakan. Mau kayak gitu? Nggak ‘kan?
Makanya, aku bakalan bahas Kenapa Bisnis Kecil Justru Harus Punya Target Market yang Sempit lebih dalam dari sudut pandang UMKM dan personal brand.
Stay tune, ya!
Tanda-Tanda Target Market Bisnismu Belum Tepat

Wajar sih kalau kalian merasa sudah punya target market. Dalam arti, kalian sudah menentukan siapa yang bisa merasakan manfaat dari produk atau jasa yang kalian buat.
Hanya saja, ada pertanyaan yang harus kalian jawab. Target marketnya sudah tepat atau belum? Itu yang belum bisa kalian pastikan.
Nggak masalah. Aku punya beberapa tanda target market kalian belum tepat, di antaranya:
1. Banyak yang Nanya, Sedikit yang Beli
Katakanlah, kalian baru bikin usaha atau produk baru. Bukan hal yang aneh gitu lho kalau ada yang tertarik sama produk baru.
Masalahnya, mereka lanjut beli atau berhenti di tengah jalan?
Kalau lanjut beli sih sudah pasti mereka membutuhkan produk atau jasa kalian. Sebaliknya, kalau nggak ya berarti mereka cuma penasaran.
2. Harga Selalu Dibilang Kemahalan
Kalian pasti sudah nggak asing sama pemandangan customer yang mengeluh soal harga. Entah itu, kemahalan atau terlalu murah.
Sebenarnya yang terjadi tuh bukan karena harga produk kalian yang kemahalan lho. Murah pun belum tentu akan diburu.
Simple saja. Mereka bilang produk kalian mahal ya karena nilai produknya belum terasa relevan bagi mereka.
3. Konten Kalian Sepi Respon
Setiap konten yang kalian posting sepi penonton. Atau mungkin rame, tapi responnya dangkal. Nggak ada diskusi, apalagi ketertarikan.
Padahal, bikin konten ‘kan butuh effort yang nggak kecil ya.
Gimana? Apakah ketiga tanda ini terasa familiar di bisnis kalian? Kalau emang iya, besar kemungkinan kalian perlu meninjau ulang target market bisnis kalian.
Cara Menentukan Target Market Bisnis yang Tepat

Ngomongin target market tuh bukan tentang asal menebak kepada siapa produk kalian akan terjual. Tapi, ini lebih ke gimana kalian mengamati dan menyaring.
Kalian bisa lakukan beberapa cara untuk melakukan pengamatan bisnis, antara lain:
1. Mulai dari Masalah, Bukan Produk
Pas kalian punya produk, mungkin kalian nggak sabar buat nanya siapa yang mau beli produk tersebut.
Tapi, Geng! Alih-alih bertanya begitu, coba deh ubah pertanyaannya jadi siapa yang paling bisa terbantu dengan adanya produk tersebut?
Lebih tepat sasaran ‘kan?
2. Kenali Siapa yang Paling Terbantu
Nggak semua orang butuh solusi yang kalian tawarkan. Meski langkah pertama sudah kalian lakukan, kalian butuh langkah lanjutan.
Bukan masalah besar kalau semua orang nggak butuh produk kalian. Bisnis masih tetap bisa berjalan. Pastikan saja arah fokus kalian pada orang-orang, sebagai berikut:
- merasa masalahnya mendesak,
- sudah mencoba solusi lain tapi belum berhasil,
- dan siap berubah.
3. Fokus ke Satu Kelompok Dulu
Aku maklum sih kalau kalian ingin menjaring lebih banyak kelompok customer. Semakin dalam dan luas kolamnya, mungkin akan lebih banyak ikan yang datang.
Tapi, itu nanti dulu. Untuk sekarang, kalian fokus saja pada satu kelompok dulu. Apalagi kalau kalian memulai bisnis dari nol.
Kalian bisa baca strategi ini lebih detail di artikelku tentang:
- Cara Menentukan Target Market Bisnis dari Nol (Tanpa Ribet)
Memahami Target Market Lebih Dalam (Bukan Sekadar Data)
Banyak orang merasa puas dan berhenti di data saat menentukan target market bisnisnya. Mereka nggak berusaha memahaminya lebih dalam.
Padahal, data hanya permukaan. Kalian nggak akan bisa menjangkau mereka secara personal.
Oleh karena itu, cobalah untuk memahami target market kalian lebih dalam, misalnya:
1. Demografis vs Psikografis
Aku paham sih, usia dan pekerjaan customer memang penting.
Tapi, ada yang lebih penting, yaitu:
- apa yang mereka takutkan?
- apa yang membuat mereka ragu?
- dan apa yang mereka harapkan dari hidup atau bisnis?
Tenang, aku bakalan bahas ini secara khusus di artikel:
- Kenapa Psikografis Lebih Penting dari Demografis
2. Apa yang Dipikirkan Target Market Saat Mereka Sendiri
Tahu nggak sih, Geng? Di momen apa sih keputusan untuk menggunakan produk dan jasa akan lahir dari customer?
Bukan saat mereka scrolling lho. Tapi, saat mereka sedang diam sendirian.
Makanya, kalau kubilang sih kalian harus mencoba untuk memahami apa yang mereka pikirkan saat itu.
3. Cara “Mendengar” Target Market Tanpa Survei Mahal
Biar lebih meyakinkan, kalian butuh mendengar apa yang calon customer kalian mau.
Yah, perlu survey dong. Pasti biayanya mahal.
Tenang, Geng! Kita bisa mendengar mereka tanpa survei yang mahal kok. Gimana caranya?
- Komentar.
- DM.
- Cerita-cerita kecil yang sering diulang.
Semua itu adalah petunjuk penting yang bisa kalian gunakan untuk mendengar target marketmu.
Dampak Positif Saat Target Market Bisnis Sudah Tepat
Setelah semua perjuangan untuk menentukan target pasar bisnis yang sesuai untuk produk dan jasa kalian, ada satu titik yang bikin kalian merasa lega.
Ketika target pasarmu sudah jelas. Siapa mereka, kebiasaannya, hingga kebutuhannya.
Hal ini akan membuat usaha jauh lebih mudah. Kenapa?
1. Promosi Terasa Lebih Ringan
Nggak ada lagi cerita kalian seolah memaksa pasar untuk melihat atau bahkan membeli produk. Tugas kalian hanya memperkenalkan doang.
Lalu, market akan berdatangan, kayak laron mengejar cahaya.
2. Konten Lebih Mengalir
Kalian nggak akan pusing membuat konten yang menarik. Soalnya, kalian sudah tahu sedang berbicara dengan siapa.
Tinggal menyesuaikan saja konten apa yang cocok. Gimana bahasa yang mungkin nyambung sama market.
3. Brand Mulai Punya “Orang-Orangnya”
Pada akhirnya, brand kalian mulai terlihat oleh marketnya. Kalian mulai punya pembaca setia. Ada audiens yang selalu membela kalian.
Bahkan, mungkin ada juga kelompok market yang merasa kalau kalian adalah rumahnya.
Target Market Bisnis Bisa Berkembang, Tapi Tetap Harus Jelas
Ingat ya, Geng! Target market tuh bukan kotak mati. Ia bisa berkembang seiring waktu.
Tapi, kalian juga harus paham bahwa berkembang itu beda dengan kehilangan arah. Artinya, perluasan target market yang sehat akan terjadi karena:
- bisnis kalian terus bertumbuh,
- pesan makin matang,
- dan audiens awal kalian ikut berkembang.
Jadi, perluasan market di sini bukan karena kalian bingung ingin menjual ke siapa ya.
Berhenti Menjual ke Semua Orang Bukan Berarti Menutup Peluang
Justru malah sebaliknya. Saat kalian berhenti menjual ke semua orang, maka:
- pesan kalian jadi lebih tajam,
- bisnis lebih fokus,
- dan dampak kalian jadi lebih terasa.
Nggak masalah kok punya lebih sedikit audiens. Asal, mereka lebih terhubung sama brand kalian. Maka, lebih baik.
Kalau kubilang sih, mending lebih sedikit pembeli, tapi mereka lebih setia. Dan dari situlah bisnis yang sehat biasanya bertumbuh. Soalnya, mereka lebih mungkin buat repurchase.
Siapa yang Sebenarnya Ingin Kalian Bantu?
Di akhir tulisan ini, mungkin kalian belum punya jawaban final.
Dan itu nggak apa-apa. Yang penting, kalian mulai bisa menentukan siapa orang yang paling ingin kalian bantu lewat bisnis tersebut.
Soalnya, saat target market bisnis jelas, menjual apapun jadi lebih mudah. Bukan nggak mungkin, kalau market kalian yang malah nungguin restock.
Kalau kalian ingin lanjut memperdalam, aku sudah menyiapkan artikel-artikel lainnya tentang:
- cara menentukan target market,
- kesalahan umum,
- dan hubungan target market dengan konten & branding.
Pelan-pelan saja belajarnya. Yang penting, kalian sudah bisa berhenti menjual ke semua orang dan mulai fokus ke satu kelompok tertentu yang akan terbantu oleh produk dan jasa kalian.
