Hai Geng! Lagi kepikiran mau bikin jurnal nih. Tapi kok aku merasa keder duluan ya. Gara-garanya, aku malah mendengar beberapa mitos journaling.
Nggak cuma mendengar sih tepatnya. Niatan ingin menulis jurnal juga munculnya ‘kan karena melihat unggahan jurnal-jurnal yang penuh stiker, tulisan rapi, dan layout yang cantik.
Aku jadi merasa kalau bikin jurnal harus secakep itu. Gimana nggak minder?
Okelah. Urusan merangkai kata atau menulis panjang sih bukan masalah buatku. Toh, aku sudah terbiasa menulis artikel yang lumayan.
Sing nggak enak tuh aku juga berpikir journaling kudu kulakukan setiap hari. Kayak, kemana lagi aku harus mencari ide? Mencari ide buat artikel saja rasanya sudah setengah hidup.
Eh lha kok temanku yang sudah duluan bikin jurnal malah bilang, semua yang kupikirkan tuh cuma mitos, Geng. Bayangkan!
Gemas deh. Pikiranku ternyata ribet. Padahal, journaling sebenarnya fleksibel. Nggak ada aturan bakunya.
Setiap orang bebas berekspresi sama jurnalnya masing-masing. Tinggal sesuaikan saja dengan kebutuhan dan rutinitasnya.
Kalau kalian masih ragu untuk mulai journaling sementara kalian butuh, yuk kita luruskan beberapa mitosnya, Geng!
Kenapa Banyak Orang Malas Mulai Journaling?
Terlepas dari semua mitos bikin jurnal yang sudah kalian dengar juga. Aku paham sih kalau sebenarnya ada akar alasan yang bikin kalian malas mulai bikin jurnal, kayak misalnya:
- Overthinking duluan sebelum mulai.
- Suka membandingkan diri dengan orang lain.
- Berpikir semua hobi harus kalian kuasai.
- Alih-alih fokus sama tujuan, kalian malah terlalu fokus sama cara.
- Percaya sama informasi yang belum tentu benar.
Kalian jadi punya standar jurnal yang harus terpenuhi untuk dilihat orang lain. Terus lupa kalau tujuan journaling bukan untuk ajang pamer.
Kalian ‘kan bikin jurnal sebagai media menuangkan pikiran, menyimpan pengalaman, atau sekadar berhenti sejenak di tengah kesibukan. Iya nggak, Geng?
Gini deh! Kalau kalian masih bingung sama konsep dasar journaling, baca deh artikelku tentang apa itu journaling biar punya gambaran yang lebih utuh.
Mitos Journaling yang Bikin Kalian Malas Mulai
Oke. Lebih lanjut bakalan kita bahas apa saja mitos journaling yang mungkin sudah kalian dengar. Terus, mari kita luruskan semua mitos tersebut.
Mitos 1: Journaling Harus Dilakukan Setiap Hari

Kalian berpikir gini juga nggak sih, Geng? Journaling kudu setiap hari. Nggak boleh lewat meski sehari doang. Kalau lewat, ya sudah, kalian gagal.
Satu hal yang kalian harus tahu. Nggak ada aturan yang mengharuskan kita menulis jurnal setiap hari.
Kalau memang minggu ini kamu nggak sempat menulis jurnal karena jadwal pekerjaan lagi padat, nggak masalah.
Cuma pastikan saja. Kalau kalian menulis jurnal, apapun yang kalian tulis benar-benar membantu kalian.
Entah itu untuk mengeluarkan beban di hati, menyimpan kenangan, atau apapun manfaat journaling bagi blogger yang kalian harapkan.
Maksudku begini lho, bukannya lebih baik menulis satu halaman setiap minggu ketimbang memaksakan diri menulis setiap hari lalu merasa terbebani. Betul nggak, Geng?
Mitos 2: Journaling Harus Pakai Buku yang Estetik
Ini nih penyakitnya. Pertama kali, aku melihat journaling milik temanku ya kupikir bagus banget. Estetik gitulah.
Aku nggak cuma ngomongin soal stiker-stiker lucu menggemaskan yang tertempel atau tulisan tangan yang indah-indah.
Tapi, aku fokus sama buku yang dia pakai. Pulpen warna-warninya. Sama itu, doi juga pakai washi tape yang estetik.
Makanya, aku berusaha dulu mengumpulkan peralatan journaling yang kupikir bakal bikin jurnalku estetik. Cuma masalahnya, emang kita bisa meramal apa yang akan kita tulis di masa depan ya?
Nggak bisa, Geng. Stiker-stikernya nggak terkumpul. Wassalam. Aku nggak mulai-mulai journaling deh.
Padahal kenyataannya, buku tulis biasa juga sudah cukup kok, Geng. Bahkan, kalau kalian memang lebih nyaman mengetik di ponsel atau laptop, itu juga nggak masalah.
Yang harus kalian ingat, yang bikin sebuah jurnal berharga bukan sampul bukunya. Tapi, cerita dan pengalaman yang tersimpan di dalamnya.
Maksudku, mulai saja bikin jurnal dulu. Pakai buku tulis biasa atau aplikasi journaling juga boleh.
Nanti, kalau kalian sudah mulai rutin menulis dan pengen mencoba format lain baru deh eksplorasi berbagai jenis-jenis journaling yang sesuai dengan gaya menulis kalian.
Mitos 3: Tulisannya Harus Bagus dan Rapi

Ini bukan cuma membahas soal tipe font atau apapun yang kalian sebutkan ya. Tapi, banyak juga lho yang berpikir kalau journaling sama kayak menulis artikel atau cerpen.
Padahal nggak begitu, Geng. Journaling adalah ruang pribadi. Kalau hari ini, kalian hanya ingin membuat daftar poin-poin, silakan.
Misal besok, kalian cuma pengen menulis tiga kalimat, juga nggak masalah.
Nggak akan ada guru yang memberi penilaian. Mana ada ada editor yang akan mengoreksi tata bahasa?
Ini yang nggak kalah penting, kalau kalian nggak mengijinkan, jelas nggak mungkin ada pembaca yang menunggu tulisan kalian jadi sempurna.
Maksudku, semakin kalian berhenti mengejar kesempurnaan, biasanya kalian akan semakin mudah menikmati proses journaling-nya.
Mitos 4: Journaling Cuma Isinya Curhatan
Aku juga dulu sering mendengar mitos ini. Apalagi yang kulihat waktu itu ya cuma jurnal temanku yang memang isinya curahan hatinya.
Tapi ‘kan nggak semua orang bisa menulis apa yang ada dalam hatinya dengan mudah. Gimana dong?
Hal ini harus kalian pikirkan ulang. Memang benar, ada orang yang menggunakan jurnal sebagai media untuk mencurahkan perasaannya. Tapi, kalian harus pahami bahwa isi jurnal sebenarnya bisa sangat beragam.
Contoh, katakanlah kalian adalah seorang food blogger yang senang mencoba tempat makan baru. Kalian mungkin membutuhkan semacam media untuk mendokumentasikan apa yang sudah kalian cicipi.
Ya sudah, setelah berburu kuliner, kalian bisa menuliskan semua kesan tentang rasa makanan, suasana tempat, ide foto, sampai inspirasi konten yang muncul selama perjalanan.
Atau kalau kalian suka bepergian, pengalaman tersebut bisa kok berkembang jadi sebuah travel journal yang isinya tentang cerita perjalanan, tiket, foto, sampai hal-hal kecil yang mungkin akan terlupakan kalau nggak segera kalian catat.
Yakin deh! Semakin sering menulis, kalian akan menyadari bahwa jurnal bukan hanya tempat menyimpan emosi. Tapi, kalian juga bisa menyimpan pengalaman dan ide.
Mitos 5: Journaling Harus Menulis Panjang
Siapa bilang? Nggak harus kok, Geng. Kadang, malah tulisan yang paling singkat yang rasanya paling bermakna. Misalnya seperti ini.
- Hari ini aku belajar…
- Hal yang paling kusyukuri hari ini…
- Besok aku ingin…
- Satu hal yang ingin kuperbaiki…
Empat kalimat sederhana kayak begini saja sudah bisa kok jadi sebuah jurnal, Geng. Intinya, tulis atau bikin jurnal saja dulu. Meski dengan kalimat sederhana pun nggak masalah.
Kalau suatu hari nanti, kalian lagi punya banyak cerita, ya silakan menulis lebih panjang.
Journaling Itu Sebenarnya Sederhana

Kalau kalian masih bingung harus mulai dari mana, jangan dibikin rumit. Kalian bisa coba jawab empat pertanyaan sederhana berikut:
- Apa yang paling berkesan hari ini?
- Lagi mikirin apa sih hari ini?
- Apa satu hal yang kalian syukuri?
- Besok kalian mau melakukan apa?
Tulis semua jawaban yang terlintas di benak kalian, Geng! Dengan begitu, tanpa sadar, kalian ‘kan sudah bikin satu halaman jurnal.
Seiring waktu, kalian bisa coba berbagai pendekatan lain sesuai kebutuhan.
Ada orang yang lebih suka menulis rasa syukur, ada yang mencatat target keuangan, yang lain suka bikin jurnal perjalanan atau jurnal membaca.
Intinya, semuanya sama-sama benar. Soalnya, setiap orang punya tujuan yang berbeda saat journaling.
Kesimpulan
Menurutku, hal yang paling sering menghalangi seseorang untuk mulai journaling bukanlah kurangnya waktu atau kemampuan menulis.
Justru yang sering jadi penghambat adalah berbagai mitos journaling yang bikin semuanya jadi terlihat rumit.
Padahal, journaling nggak harus kalian lakukan setiap hari, nggak harus pakai buku yang mahal, nggak harus punya tulisan yang indah, dan nggak harus selalu berisi curhatan.
Mulai saja dengan cara yang paling sederhana dan paling nyaman buat kalian. Karena pada akhirnya, jurnal bukan tentang bikin halaman yang sempurna.
Jurnal adalah tentang memberi ruang bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak, mengenali apa yang sedang kalian pikirkan, dan mengabadikan momen-momen yang mungkin suatu hari nanti akan menyenangkan untuk dikenang kembali.
Menurut kalian, ada lagi nggak sih mitos journaling yang belum kusebutkan! List di kolom komentar dong! Yang rapi ya, Geng!

Bukan cuma mitos tapi itu fakta karena dialami banyak orang dan pada akhirnya kalau memang mau jurnaling yang dengan benar ya harus dijalankan langsung Jangan ditunda-tunda karena nggak akan mulai Mulai kalau misalnya ikut mitos terus ya
Masalah utamanya menurutku yaaaa.. kita juga udah semakin jarang memegang sebuah benda bernama pulpen dan pensil. Udah kebiasaan banget kita tuh, apa-apanya serba digital. Diketik, dan bisa dihapus kapanpun kita mau. Hal yang sama gak berlaku dengan alat tulis tradisional, hihihi
Aku pengen sih coba journaling, tapi entah kenapa kalau posisi kita lagi lelah, journaling ini bukannya jadi media healing ya. Malah nambah2in pikiran, karena kepala kita kan kudu mikirrrr apa aja yang mau ditulis dan perasaan apa aja yang kita rasakan hari ini.
Manalah, tulisan saya mah kayak ceker ayam, hahahahaha
BIasanya gitu sih,bukan cuma soal journaling dalam kegiatan apapun jika ada pembandingnya dan menurut kita pembandingya itu bagus, jadi berdampak ke kitanya jadi males karena merasa kita gak bisa mengejar pembanding kita, padahal justru menurut orang lain belu tentu bagus juga.
jadi jika sudah mau melakukan journaling sebaiknya lakukan saja tanpa harus tengok kanan kiri, baik jeleknya gimana nanti.
aku udh ngelakuin journaling lama juga, daaaaaaaan ga estetik samasekali hahahahahah… lah wong aku memang ga ada jiwa seni mba ;p.
so buku jurnal ku itu kebanyakan yaaa utk catat ide, trus utk bikin list to do di hari itu kalau banyak kegiatan… trus untuk catat pasword apapun yg aku punya hahahaahha… aku pelupa… sementara kalau catat di hp, aku takut ke hack ;p. paling aman ya di buku jurnal… tapi semuanya pake kode, yg mana cuma aku yg ngerti 😀 . lagian buku jurnal jrg aku bawa sih, memang kebanyakan di rumah aja.
so, untuk temen2 yg mau nulis jurnal, tulis ajaaa… ga usah mikirin estetika… malah males, atau biasanya rajin di awal, trus makin lama makin kosong jurnalnya ;p
Journaling ini kalo zaman dulu semacam buku harian gak sie mbaa…
Kita bebas menuangkan apapun isi pikiran kita, rencana-rencana kit, target kita apapun itu,,jadi gak ada aturan baku juga harus nulis tiap hari atau harus rapi cantik banyak stiker dan lain-lain kayak yang sering kita lihat sekarang…
Journaling ini intinya membantu kita menuangkan isi kepala kita agr mudah di eksekusi nantiny ataupun biar gak numpuk jadi sampah di kepala,,jadi mo seperti apapun journal mu sesuaikan saja dengan jati diri kita 🙂
Mitos journaling ini emang sering menerpa orang yang baru mau memulai. Padahal, sekarang kan banyak informasi akurat ya terkait journaling bahkan ada komunitas nya juga. Kalaupun semager itu buat memulai, bisa join komunitas supaya makin kepancing semangat memulai journaling mengingat kegiatan yang satu ini bermanfaat sekali.
Apalagi di era serba digital, udah langka orang yang mau ngoprek buku, pulpen, pensil. Yuk mari journaling biar nggak mudah stress.
Aku sendiri dulu sempat berpikir journaling itu kudu rapi, estetik, dan ditulis setiap hari. Apalagi inget konten-konten estetik journaling itu. Kadang ya bikin minder sih. Hiks..
Akhirnya gara-gara baca buku syulit, butuh coret-coret, eh malah jadi bentuk jurnaling yang nyaman. Meski nggak estetik banget. Ternyata yang penting justru menuangkan pikiran, bukan membuat halaman yang indah dan estetik. 😀
Saya menulis kapan saja saat senggang. Walaupun sebagian menyisihkan waktu supaya bisa menulis (menyempatkan) tapi kalau isinya ya Eman yg kebanyakan curhat
Secara saya menulis emang untuk menjaga kewarasan alias self healing
Sebenarnya mau menulis atau tidak juga tidak ada paksaan sih ya. Hanya kita kembalikan ke niat awal saja…
Pernah beberapa kali mencoba journaling, tapi memang kurang cocok. Mungkin memang kembali lagi ke preferensi masing-masing ya, karena tidak semua metode efektif untuk semua orang.
Kalau daku belum mulai journaling karena faktor M, alias Mager wkwkwk. Padahal udah ada keinginan pengen memulainya, dan ga yang berpikir belibet harus ini itu termasuk medianya. Cuma ya itu tadi untuk menghilangkan faktor M ini, masih sukar dilakukan. Do’akan daku ya mbak, agar bisa berubah hehe
memilih journaling maka harus memilih untuk selalu konsisten dan harus mampu melawan rasa malas yang seringkali hadir tatkala banyaknya pekerjaan. tapi setidaknya dengan journaling bisa memetakan setiap rutinitas yang ada sehingga kehidupan akan lebih teratur
Journaling itu yang penting dimulai yaa mulai saja dulu. Saya pernah terbelit dengan mitos itu,,,kalau journaling itu harus dibuat bagus dan rapih,,,,terus harus ada gambar-gambar dan saya tidak bisa gambar,,,jadinya yaa gak bisa mulai-mulai deh,,,,Jadi mitos-mitos itu memang menghalangi jadinya yaa buat bikin journaling,,akirnya gak jalan-jalan deh journalingnya.
Kalau saya malas bikin Journaling karena suka membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. KOk saya ga kayak gini gitu. Terus memang dalam bayangan saya, bikin Journaling itu harus ciamik. Termasuk buku yang bagus.
Padahal ga kayak gitu ya. Bisa dari buku yang ada aja. Terus isinya bisa aktivitas sederhana juga. Intinya dituangkan saja dulu, biar nanti jadi konsisten bikin journaling.
kalo jaman dulu bilangnya nulis diary😹🚃😁
sekarang malah banyak event journaling.
HTM nya ga bisa dibilang murah juga..di atas 100K
kalo aku ya mending beli ayam ama telor aja, bisa buat makan sekeluarga 😹😁
Eh bener sih kak. Kita tuh kebanyakan mikir. Mau ditulis spt apa sih. Mau dikreasikan spt apa sih. Ntr salah konsep lagi. Mknya ga mulai2 krn kebanyakan mikir. Haha.
Ternyata journaling ini bs dilakukan secara sederhana ya kak. Ga perlu yg estetik, mahal apalagi penuh konsep njelimet.
Yg penting kita bs menuangkan apa yg ada di pikiran. Ntr pasti berkembang sesuai zaman deh. Ntr jg bs bgs sendiri gt ya kak? Yg pntg bs utk melepas stres. Jgn malah stres krn mikirin journaling ini. Hehe.
Setuju nih kadang orang malas jurnaling itu karena terjebak dengan pemikiran jurnaling harus estetik dan sebagainya. Padahal kan intinya jurnaling itu nulis ya bisa nulis perasaan atau hal yang bisa kita syukuri setiap harinya
Saya juga pernah mikir begini sebelum akhirnya nyemplung di komunitas Journaling. Tapi pas sudah di dalam ternyata tidak seruwet yang saya bayangkan, semua mengalir begitu saja karena saya memang menjadikan aktivitas njournaling ini sebagai media healing. Alhamdulillah bisa bertahan sampai saat ini, waktunya pun fleksibel, kadang-kadang malam pas susah tidur atau pas momen tertentu ketika saya memerlukan “jeda” dari rutinitas sehari-hari.
Beneeer! Aku nggak mulai-mulai journaling karena terjebak mitos-mitos itu. Jadi berasa nggak ada waktu hahaha
Padahal kuncinya sederhana saja ya.
Menarik nih. Setelah membaca ini aku jadi lebih pede buat memulai journaling.
Zaman masih gadis dulu aku suka ngejurnal, tempelin sticker2, pakai buku bagus gitu. Sekarang jujur emang males hehe 😛
Mungkin karena waktunya belum ada yang luang, udah capek duluan sama printilannya, walaupun nggak mutlak harus ada sih yaa,
Tapi emang aku menyadari belakangan tu ya tulisanku makin ke sini makin jelek, makin ngak sabar aku tu menulis wkwk.
Trus karena udah ada sosmed, apalagi yang bisa nulis cepet kek X atau threads, ada blog juga, akhirnya aku tuangkan ke sana.
Tapi tetep sih sebenarnya aku ada jurnal cuma isinya tu kek “itung2an ibadah harian” wkwk. Sama satu lagi nulis janji temu sama soal duit.
Entahlah mungkin nanti ada juga masanya nih ngejurnal. Apalagi sekarang banyak komunitas jurnaling lucuk2 yekan, kali kalau ikutan komunitas gitu lebih terpicu ngejurnal 😀
Hmm, bener. Mitos-mitos ini emang sukses bikin minder duluan sebelum mulai. Dulu aku juga mikir journaling itu harus estetik parah ala-ala Pinterest yang penuh stiker sama washi tape, plus tulisannya harus serapi ketikan komputer. Pas dicoba, malah stres sendiri nyari barang-barangnya wkwk.
Padahal setelah dijalani, pakai notes bawaan HP atau buku tulis biasa juga udah ngaruh banget buat numpahin isi kepala yang lagi ruwet. Btw, setuju sama poin terakhir, journaling ringkas pakai 3-4 kalimat sebelum tidur itu penyelamat banget pas lagi capek-capeknya!
Yuk lah, yang penting mulai dulu aja, ga harus nunggu sempurna ya.
Saya termasuk yang awalnya berpemikiran kalau ngejurnal itu tulisannya kudu rapi dan estetik, plus ditambah pernak-pernik agar terlihat menarik. Ternyata ga gitu, ya aturannya. Intinya nulis bebas-bebas aja kan, tanpa ada aturan ABCD.
Saya jarang nulis jurnal, tapi kalau pekerjaan lagi padet dan butuh resume note yang bisa mengingatkan, biasanya jurnal ini ngebantu banget sih biar kita ga keluar track di tengah-tengah kesibukan