Pertama kali aku tertarik sama journaling tuh gara-gara lihat punya teman-teman yang bertebaran di media sosial. Pengen buat, tapi gimana? Aku bahkan nggak punya perlengkapan journaling untuk pemula.
Alih-alih mulai menulis, aku malah sibuk sendiri mencari perlengkapan. Pengennya notebook dengan sampul yang lucu, pulpen warna-warni, sticker, sampai washi tape.
Pokoknya, aku berharap bisa membuat jurnal estetik yang kaya punya mereka. Terus gimana kelanjutannya? Dapat semua perlengkapannya?
Dapatnya sih dapat. Tapi, jurnalnya tetap kosong-melompong. Efek terlalu fokus sama alat journaling yang dibutuhkan tanpa memikirkan kebiasaan menulis nih aku, Geng.
Kenyataannya, menulis jurnal mah sederhana saja. Asal ada kemauan yang kuat, modal buku tulis biasa sama pulpen juga sudah cukup kok. Akunya saja yang banyak mau.
Jadi, kalau kalian baru memulai journaling, nggak perlu langsung membeli semua perlengkapan yang terlihat estetik, Geng.
Aku bakalan menyebutkan semua perlengkapan journaling di artikel ini. Tenang saja! Aku juga akan menambahkan mana perlengkapan yang benar-benar kalian butuhkan dan mana yang sifatnya hanya pelengkap.
Banyak Orang Menunda Journaling karena Perlengkapan
Aku setuju dengan pernyataan ini. Soalnya, aku juga pernah merasa seperti itu. Pengen menulis jurnal, tapi nggak punya perlengkapan yang kupikir bakal bikin jurnalku estetik kayak yang di media sosial.
Coba pikirkan deh, Geng! Emangnya, peralatan yang katanya bikin jurnal estetik itu syarat utama untuk mulai menulis? ‘Kan nggak.
Makanya, nggak usah FOMO melihat jurnal yang cantik di medsos. Halaman yang penuh warna, lengkap sama stiker, foto, dan tulisan yang rapi nggak perlu jadi acuan kita untuk menulis jurnal.
Nggak papa banget kok mulai journaling meski belum punya perlengkapan lengkap. Pake buku tulis biasa sama pulpen juga sudah lebih dari cukup.
Ketimbang terus-terusan menunda journaling. Padahal, ada banyak hal yang sangat ingin kalian luapkan dalam tulisan. Entah itu, hati yang gundah, cerita traveling yang sangat menyenangkan, sampai ide untuk artikel blog.
Gini deh, Geng! Kalian pilih semua cerita itu menguap dari ingatan karena nggak punya perlengkapan journaling yang lengkap atau tulis saja dulu apa adanya dan kalian tetap bisa bersama mereka hingga nanti-nanti?
Ya sudah sih. Kalau kalian masih merasa harus punya perlengkapan tertentu sebelum menulis, baca saja artikelku yang kutulis sebelumnya tentang mitos journaling.
Percayalah, Geng! Kenyataannya nggak sesulit itu kok.
Kesalahan Pemula Saat Membeli Perlengkapan Journaling

Wajar kok sebagai pemula melakukan kesalahan saat mau journaling, khususnya di momen saat membeli perlengkapannya.
Makanya, aku menuliskan semua kesalahannya di artikel ini. Biar kalian, sebagai pemula, nggak melakukan kesalahan yang sama.
1. Terlalu Fokus pada Barang, Bukan Kebiasaan Menulis
Aku dulu menghabiskan waktu berjam-jam cuma buat scrolling marketplace demi mencari notebook buat journaling yang cocok sama seleraku.
Banding-bandingkan merek satu dengan yang lainnya. Ceki-ceki ulasan stationery.
Notebook-nya sih dapat. Tapi, aku nggak berhenti mencari. Aku masih terus hunting banyak perlengkapan yang lainnya cuma gara-gara habis nonton video journal setup.
Akibatnya, boro-boro bisa menulis jurnal secara konsisten sesuai ritme menulisku. Halaman pertama notebook-ku masih mulus. Nggak ada isinya sama sekali. Amazing ‘kan, Geng?
Menurutku, ketimbang sibuk menghabiskan waktu buat mengumpulkan alat journaling yang dibutuhkan, mending tetapkan kebiasaan menulis kalian dulu dengan peralatan seadanya.
2. Membeli Terlalu Banyak Sekaligus
Kalau kalian sudah rutin menulis jurnal, pasti tahu banget kalau nggak semua alat journaling akan kalian gunakan. Benar nggak, Geng?
Notebook sudah pasti. Pulpen juga. Highlighter masih mungkin kepake.
Tapi, stiker? Brush pen? Washi tape? Atau printer mini deh tuh. Yakin deh. Kalian nggak akan terlalu butuh setiap kali menulis jurnal. Paling di momen-momen tertentu saja. Kalau apa yang kalian tulis di jurnal sesuai.
Saranku sih, daripada menunggu alat menulis jurnal kalian lengkap, mending ya menulis dulu saja. Terus, kumpulkan atau beli peralatan lainnya sambil lalu.
3. Mengikuti Tren Tanpa Memikirkan Kebutuhan
Kubilangin ya, Geng. Setiap orang tuh punya gaya journalingnya masing-masing.
Aku misalnya. Lebih suka membuat daftar. Ada yang senang menulis cerita. Ada yang gemar menghias halaman. Yang cuma mencatat kegiatan harian yo banyak.
Dari semua gaya itu, alat journaling yang dibutuhkan pasti berbeda. Makanya, sebelum membeli peralatan apapun, mending kalian kenali dulu jenis-jenis journaling.
Dengan begitu, kalian nggak akan mudah tergoda membeli perlengkapan yang sebenarnya jarang dipakai.
Perlengkapan Journaling untuk Pemula
Menurutku, perlengkapan journaling sebenarnya nggak sebanyak yang sering kita lihat di media sosial kok. Ada beberapa alat yang memang penting untuk memulai, sedangkan sisanya bisa kalian beli nanti kalau memang butuh.
Kalau baru pertama kali mencoba, fokus saja pada perlengkapan dasar terlebih dahulu.
1. Media Journaling
Hal pertama yang perlu kalian tentukan adalah media yang ingin kalian gunakan. Untungnya sih, pilihannya cukup banyak, di antaranya:
- Notebook. Praktis. Mudah kalian bawa ke mana-mana. Dan rasanya lebih nyaman saat menulis dengan tangan.
- Sketch Book. Media ini cocok untuk membuat art journal, visual journal, atau jurnal yang bisa kalian penuhi sama ilustrasi-ilustrasi sederhana.
- Aplikasi Journaling. Kalau lebih sering bekerja menggunakan laptop atau ponsel, aplikasi digital juga bisa jadi pilihan. Misalnya, bisa pakai aplikasi catatan bawaan, Google Docs, Notion, atau aplikasi journaling khusus.
- Scrapbook. Kalau kalian senang menyimpan kenangan dalam bentuk foto, tiket, atau brosur, scrapbook bisa menjadi media yang menyenangkan.
Yang terpenting adalah memilih media yang bisa bikin kalian nyaman dan konsisten menulis.
Misalnya setelah traveling, kalian bisa menempel tiket kereta, foto, atau struk dari tempat makan favorit di scrapbook. Lalu menambahkan cerita singkat tentang pengalaman tersebut.
Atau kalau kalian hobi membaca dan sering membuat book review, kalian juga bisa menyelipkan kutipan favorit dari buku yang baru selesai dibaca sebagai pelengkap halaman jurnal di notebook.
Kalau sebelumnya kalian masih bingung menentukan media yang paling cocok, artikel cara memulai journaling untuk pemula mungkin bisa memberikan gambaran sebelum benar-benar mulai.
2. Pulpen yang Nyaman
Kalau mau ambil sebuah perumpamaan, maka kubilang notebook adalah rumahnya jurnal. Sementara itu, pulpen adalah teman terbaiknya.
Oleh karena itu, pilihlah pulpen yang paling nyaman untuk kalian gunakan! Bukan cuma karena harganya yang mahal lho, Geng.
Coba deh kalian bayangkan! Kalau seandainya kalian menulis untuk waktu yang cukup lama. Bukankah kenyamanan genggaman dan kelancaran tinta bakal jauh lebih terasa ketimbang desainnya?
Kalau kalian tanya ke aku. Jelas, aku lebih suka pulpen dengan tinta yang mengalir lancar dan nggak mudah bikin tangan pegal. Soalnya, capek sedikit saja tulisanku bisa ganti gaya, Geng.
Sebenarnya, nggak harus membeli pulpen khusus buat menulis jurnal juga sih. Kalian selalu bisa pakai pulpen yang sudah ada di rumah.
Baru deh, kalau nanti sudah ketemu gaya menulis yang cocok, kalian bisa eksperimen dengan berbagai jenis alat tulis lainnya.
3. Tempat Menyimpan Journal agar Tetap Awet (Opsional)
Bagian ini sebenarnya nggak wajib, tapi aku yakin akan cukup berguna kalau nanti kalian sudah mulai punya lebih dari satu jurnal. Kenapa?
Soalnya, notebook yang disimpan dengan baik biasanya lebih awet dan tetap rapi.
Tempat penyimpanannya nggak usah yang istimewa banget. Pakai rak buku, kotak penyimpanan biasa, pouch, atau buat laci khusus juga nggak masalah kok. Yang penting nggak gampang kena debu.
Perlukah Membeli Perlengkapan Journaling yang Estetik?

Perlu dan nggak perlu sih, Geng.
Gini lho, aku pernah tergoda melihat perlengkapan journaling yang lucu-lucu. Rasanya pingin kubeli semua karena kupikir pasti bakal bikin lebih semangat menulis jurnalnya.
Kenyataannya, nggak begitu juga sih.
Aku pernah melihat seseorang yang punya koleksi notebook yang sangat cantik, stikernya bagus-bagus, ada highlighter juga, lengkaplah pokoknya, tapi hampir semua halamannya masih kosong.
Sebaliknya, ada yang cuma pakai buku tulis biasa. Sampulnya bahkan sudah mulai kusam. Menariknya, jurnal miliknya isinya penuh dengan cerita, pengalaman, dan perjalanan hidup yang berharga.
See! Kalian lihat dong perbedaannya! Menurutku, jurnal yang penuh tulisan jauh lebih indah daripada notebook mahal yang hanya tersimpan di rak.
Jadi, kalau saat ini kalian belum punya perlengkapan journaling yang estetik, nggak usah minder. Mulai saja dengan apa yang sudah ada.
Nanti, kalau kebiasaan menulis sudah terbentuk, kalian bisa menambah perlengkapan sedikit demi sedikit sebagai bentuk apresiasi untuk diri sendiri.
Perlengkapan Journaling Tambahan yang Boleh Kalian Miliki
Kalau perlengkapan sebelumnya bisa kubilang cukup untuk memulai journaling, maka beberapa alat berikut sifatnya hanya pelengkap.
Artinya, kalian boleh punya kalau memang suka. Kalau nggak punya pun nggak jadi masalah.
1. Highlighter
Highlighter cocok kalian gunakan untuk menandai kalimat penting atau bagian yang ingin lebih mudah kalian temukan saat membuka kembali jurnal.
Misalnya, kalian ingin menandai target bulanan, kutipan favorit, atau momen yang paling berkesan.
Selain bikin halaman jurnal lebih menarik, highlighter juga membantu informasi penting lebih mudah terlihat.
2. Brush Pen atau Dual Tip Marker
Kalau kalian senang bikin judul yang lebih artistik atau menghias halaman jurnal, brush pen bisa menjadi pilihan.
Aku sendiri nggak terlalu sering pakai.
Namun, untuk bikin halaman pembuka bulan baru atau menulis kutipan favorit, brush pen memang memberikan sentuhan yang beda sih, Geng.
3. Washi Tape
Menurutku, washi tape adalah salah satu perlengkapan yang paling menyenangkan.
Motifnya beragam dan mudah kalian gunakan untuk menghias pinggiran halaman, membingkai foto, atau sekadar memberikan aksen warna.
Yang aku suka, washi tape juga mudah kalian lepas tanpa merusak kertas. Asyiklah pokoknya.
4. Sticker
Ini solusi banget buatku kalau pingin halaman jurnalku lebih menarik. Nggak perlu menggambar, karena aku memang nggak ahli menggambar, cuma perlu menempelkan.
Biasanya, aku bakal pilih desain yang sesuai sama ceritaku. Kalian juga bisa memilih desain yang sesuai dengan kepribadian atau tema jurnal yang sedang kalian buat.
5. Lem atau Tape Runner
Perlengkapan ini berguna kalau kalian sering menempel foto, tiket, kartu pos, atau potongan kertas ke dalam jurnal.
Ketimbang lem cair, tape runner biasanya lebih rapi dan nggak bikin halaman jadi bergelombang. Estetiklah ceritanya.
6. Sticky Notes atau Memo
Kadang ada ide yang muncul secara tiba-tiba saat sedang sibuk.
Daripada lupa, kalian bisa menuliskannya di sticky notes terlebih dahulu, lalu memindahkannya ke jurnal saat punya waktu luang.
Selain itu, sticky notes juga bisa kalian gunakan sebagai penanda halaman yang sering kalian buka.
7. Correction Tape
Meskipun banyak orang memilih untuk membiarkan saja kesalahan tetap ada sebagai bagian dari proses journaling, nggak sedikit juga yang lebih nyaman pakai correction tape.
Menurutku, nggak ada yang salah dengan itu.
Kalau correction tape bikin kalian lebih percaya diri saat menulis, pakai saja. Jangan sampai takut salah justru bikin kalian enggan mulai menulis!
8. Perlengkapan Custom Lainnya

Seiring waktu, mungkin kalian ingin menambahkan sentuhan yang lebih personal.
Misalnya dengan menggunakan stamp favorit, menyelipkan foto Polaroid, kartu ucapan, daun kering, atau tiket konser yang punya kenangan tersendiri.
Hal-hal kecil kayak ini justru bikin jurnal terasa lebih bermakna saat kalian buka kembali beberapa tahun kemudian.
9. Printer Mini
Belakangan ini printer mini cukup populer di kalangan pecinta journaling.
Ukurannya kecil, mudah dibawa, dan praktis untuk mencetak foto, kutipan, atau gambar sederhana.
Namun, menurutku printer mini bukan perlengkapan yang wajib kalian punya.
Kalau memang suka bikin scrapbook atau memory journal, alat ini bisa jadi investasi yang menyenangkan.
Sebaliknya, kalau lebih sering menulis ketimbang menghias halaman, kalian nggak perlu terburu-buru membelinya.
Jangan Beli Semua Sekaligus, Pilih Perlengkapan Sesuai Gaya Journaling Kalian
Kalau aku boleh memberi satu saran untuk pemula, maka kubilang jangan kalap saat melihat perlengkapan journaling yang lucu!
Iya. Aku tahu kok. Betapa menariknya ketika melihat stiker yang lucu. Washi tape yang cantik. Rasanya, pingin checkout semua.
Padahal, belum tentu semuanya benar-benar kalian pakai. Menurutku, lebih baik membeli perlengkapan secara bertahap.
Mulai dulu dari notebook dan pulpen. Kalau sudah mulai rutin menulis, baru dah tambahkan highlighter, stiker, atau perlengkapan lain yang memang sering kalian gunakan.
Selain lebih hemat, cara ini juga membantu kalian mengenali gaya journaling sendiri. Misalnya, kalau ternyata lebih suka menulis panjang, mungkin kalian nggak butuh banyak stiker.
Sebaliknya, kalau senang bikin scrapbook atau menghias halaman, perlengkapan dekorasi bisa jadi pilihan yang tepat.
Dengan begitu, setiap barang yang kalian beli benar-benar akan kalian gunakan. Bukan cuma berakhir jadi koleksi.
Yang Terpenting Bukan Peralatannya
Semakin lama menulis jurnal, semakin aku percaya bahwa yang bikin journaling terasa bermakna tuh bukan karena harga notebook atau banyaknya perlengkapan yang kalian miliki. Melainkan cerita yang kalian tuliskan di dalamnya.
Satu halaman yang berisi pengalaman hari ini akan jauh lebih berharga ketimbang notebook mahal yang masih kosong.
Begitu juga dengan tulisan yang sederhana. Nggak usah memaksakan untuk puitis. Nggak rapi pun boleh. Mau tanpa hiasan juga nggak papa.
Karena pada akhirnya, jurnal adalah tempat untuk menyimpan perjalanan hidup kalian sendiri. Bukan untuk membandingkan diri dengan orang lain.
Jadi, jangan sampai keinginan punya perlengkapan journaling yang sempurna justru bikin kalian lupa pada tujuan utama journaling, yaitu mulai menulis.
Kesimpulan
Perlengkapan journaling memang bisa bikin pengalaman menulis terasa lebih menyenangkan. Namun, bukan berarti kalian harus membeli semuanya sejak awal.
Mulailah dari perlengkapan yang benar-benar kalian butuhkan, kayak media untuk menulis dan pulpen yang nyaman.
Setelah kebiasaan journaling mulai terbentuk, kalian bisa menambahkan perlengkapan lain sesuai kebutuhan dan gaya masing-masing.
Yang terpenting, jangan biarkan daftar belanja jadi alasan untuk menunda menulis jurnal.
Soalnya, jurnal yang paling berharga bukanlah jurnal dengan perlengkapan paling lengkap, tapi jurnal yang benar-benar berisi cerita, pelajaran, dan momen yang pernah kalian alami.
Kalau hari ini kalian sudah punya sebuah buku kosong dan satu pulpen di rumah, sebenarnya itu sudah lebih dari cukup. Tinggal buka halaman pertamanya, lalu mulailah menulis, Geng!

Naaaah beneeeer nih mba. Kebanyakan orang2 itu mikirnya journaling adalah cara utk berekspresi seindah dan sekreatif mungkin dengan memakai highlight, stiker, pulpen warna warni, tulisan indah bak kaligrafi, etc… padahal inti dari journaling itu menulis. Ga perlu ditempeli stiker aneka bentuk, yg penting inti yg mau ditulis ada.
Termasuk aku yg dulu mikirnya begitu. Sampe beli loh aneka stiker, tp ternyata ga kepake. Mana sempet nempel2in begituan , sementara aku kalau nulis aja maunya sat setz boro2 tulisan indah 😂😂. Jadi ditempeli stiker ga bakal membuat jurnalku makin cantik juga 😅.
Tp ga salah kalau temen2 mau beli segala perlengkapan journaling yg lengkap . Apalagi jika jiwa kreatif nya tinggi. Tp kalau kayak aku yg cuma sekedar mentingin tulisan, ga perlulah yg aneh2, cukup notes dan pulpen 😁.
aku banget ini, relate pokoknya mbk
jadi dulu tuh aku pengen ngejurnl gitu, modelan sticker lucu lucu aku beli pokoknya, tapiiiii malah gak rajin ngejurnal dan bingung apa yang mau ditulis.
padahal ngejurnal nggak harus beli perlengkapannya dulu, yang penting niatan buat memulainya.
sampe sekarang stikernya masih ada dan nggak diapa-apain. Soalnya pengennnya kyak kudu yang sempurna gitu bikinnya
untuk perlengkapan journaling saya lebih suka dengan hal-hal yang sederhan cukup notebook dan pulpen, tidak perlu yang lain karena memang yang dibutuhkan adalah esensi tulisannya dan memupuk kebiasaan untuk terus menulis tanpa harus menunggu banyak drama. untuk kebutuhan perlangkap lainnya memang kurang tertarik, apa karena laki-laki ya. he he
Nah, setuju ini, intinya journaling kan menulis. Baru ada buku tulis dan pulpen saja sudah cukup, kok. Menceritakan hal-hal sehari-hari itu memang perlu. Selain untuk mengabadikan, juga bisa untuk membuat kita terbiasa menulis. Kalau sudah mulai banyak, bisa dipindahkan ke blog, kok. Tentu saja, blog sendiri, dong, masa di blognya orang lain? Membajak itu namanya, hehe.
Anak jaman sekarang nih cita² nya apa, eh akhirnya apa yang dipilih gak muncul, kalau yang dianggap sebelah mata malah mbrudul… Hehe…
Journaling sama dengan bergelut dengan dunia kepenulisan. Otomatis harus memiliki jam terbang yang terbaik dalam hal dunia tulis menulis ya.
Setuju banget KAK Yuni
Journaling bisa dimulai dengan yang sederhana, buku biasa, spidol, stiker yang udah dipunya, bahkan daku pernah lihat ada kawan yang nempel bungkus makanan (bekas dan bersih) buat ditempel di jurnal.
So far daku udah nyoba journaling meski pakai buku kecil dan bolpen, lega rasanya, dan yang paling penting jadi membiasakan menulis tiap hari.
Nah iya, banyak kejadian di pertemanan ku akhir-akhir ini. Beberapa teman pengen mulai journaling tetapi mereka amat fokus cari perlengkapan yang lucu, gemesh. Namun sayangnya malah nggak pada gerak atau mulai jurnal. Entah karena kejebak sama “belum lengkap perlengkapan nya.” Atau malah dilanda mager pas mau mulai.
Lewat artikel ini, kami pembaca jadi lebih paham. Kalau perlengkapan journaling bukan urgensi. Terpenting niatan mau jurnal, dan gaskeun mulai. Lalu, jaga konsistensi. Kalau sesekali beli sticker buat bikin jurnal makin menarik gapapa, semua sesuai kesukaan masing-masing selama tidak berlebihan. Terpenting enjoy jalaninnya dan journaling kasih banyak manfaat baik juga.
hmm, aku merasa mengapa pemula jadi lebih fokus ke pernak2 pernik pendukungnya karena ingin meninggalkan atau mewariskan catatan perjalanan yang menarik dan tertata rapi. Macam kalau bikin akun medsos, maunya rapi dari awal, niche-nya apa. Padahal, intinya ya mestinya menulisnya dulu ya. Eh, saya ngomong gini, padahal saya juga baru beli sketch book… wkwkwkwk… Niatannya juga sama, mau journalling, tulis dengan tangan… Tapi cukup sampai pada notebook dan alat tulis kok… heheheh… Thank you postingan ini membuka mata akan pernak pernik journalling yang bisa membuat kita lupa akan tujuan awal ya 🙂
Daku suka lihat journaling orang-orang yang nempelin stiker atau sticky notes lucu. Jadinya tertarik juga pengen nyobain, cuma belum mulai juga huhu.
Sepertinya triknya mba Yun ini bener juga adanya, ga perlu ngumpulin semuanya, bisa bertahap ya, yang penting mulai aja dulu
Wah, ternyata ada banyak ya perlengkapan dan pernak pernik untuk Journaling
Buat yang hobi, pasti bakal mengoleksi semua ini. Biar apa? Biar jurnalnya makin cantik dan estetik
Kalau mau puas memang segala peralatan jurnal yang harus ada dan komplit jadi kita bisa membuat jurnal seestetik mungkin sesuai dengan keinginan kita akan tetapi saya setuju dengan orang-orang yang memanfaatkan bahan-bahan yang ada dulu di rumah supaya lebih kreatif dan tidak boncos dalam pengeluaran
Aku ketawa di bagian notebook sudah dibeli tapi halaman pertamanya masih mulus. Relate banget mbak, kadang kita terlalu sibuk mempersiapkan “alat” sampai lupa sebenarnya mau melakukan apa. Hehe.
Apalagi kalau lihat journaling orang di media sosial yang lengkap dengan sticker, washi tape, brush pen, sampai printer mini, rasanya tangan langsung gatal buka marketplace.
Padahal poin paling penting dari tulisan ini justru sederhana: mulai dulu dengan buku dan pulpen yang ada.
Menurut aku, jurnal yang penuh coretan pengalaman hidup jauh lebih menarik daripada notebook mahal yang cuma jadi penghuni rak.
Lagipula, gaya journaling kan baru ketahuan setelah benar-benar dijalani. Jadi mungkin daripada checkout dulu, mending isi satu halaman dulu hari ini. Wkwkw.
Inilah Mba masalahnya. Aku fokusnya lebih ke ngumpulin perintilan alat journalingnya. Gemes gemes liat peralatannya unyu unyu banget. Tapi ya itu >.< ga mulai mulai nulisnya. Malah jadinya anakku yang senang journaling
Aku masih belajar banget yang namanya Journaling.
Sekarang, hobi banget Journaling kajian.
Dan kadang sering mengerutkan alis sendiri saking banyaknya notebook yang aku punya, hhahhaa…
Hobinya kalau lagi safar ke sebuah kota, pasti mampir ke Oh Some! atau sejenisnya cuma buat nyari notebook yang lucyyuu.. padahal mah yaa.. logikanya, mereka kan frenchise yaa.. pasti dimana-mana barangnya sama.
Tapi tetep siih.. kalo ada toko stationery, suka banget nongkrong berlama-lamaa..
Bisa milih 1 beda penting untuk Journaling ini 1 jam… nanti kadang uda pulang ke rumah pun serasa ada yang “Kenapa aku tadi ga beli itu yaa??”
Bolpen siih..etapi stiker lucu dan washi-tape memang gaboleh ketinggalan.
kalau lihat printilan jurnaling jaman sekarang itu jujur aku stress duluan karena kok banyak banget yaa. Tapi biasanya yang banyak printilan ini orangnya memang kreatif sih. Aku sendiri nggak pakai printilan itu sih cuma modal buku sama pulpen aja buat nulis jurnal. he
Selama ini journaling emang identik dengan catatan cantik dan rapi yang dihias sana sini. Nah aku nggak berbakat nih bikin beginian. Makanya maju mundur mau journaling. Yang ada aku cuma sekedar mencatat hal-hal penting di buku hahaha…
Selian nggak berbakat, belum ada waktu juga kalau sekarang harus menghias indah-indah begitu. Butuh printilan banyak juga kan…
Wah ternyata saya tidak sendirian he…he…saya kemarin awal ikut jurnaling juga begitu. Sibuk sendiri berburu perlengkapannya. Tapi tidak apa-apa lah supaya ngumpul tidak hanya membawa notebook saja. Tetap bermanfaat kok meskipun sebenarnya yang paling penting adalah menjaga semangat agar tetap istikimah menulis jurnal bukan sekadar ikut trend sesaat. Jadi perintilannya benar-benar bisa dipakai untuk mempercantik jurnal.
Pengen buat journal…sepertinya kalau untuk bisa ada tempelan² bukunya harus beli yang besaran yaa seukuran A4 gitu biar leluasa..atau yg seukuran buku tapi agak besaran dikit. Saya seneng journaling tuh bayanginnya bukan cuma menulis tapi menempelkan apapun yg related dan jadi kenangan buat momen itu. Misal foto. Tiket, nota bon dll. Dan jangan lupa menulisnyaa karena ini yg terpenting dari esensi journaling.
Kalau journaling emang gak perlu mikir jauh, beli apa saja? Kudu borong isi toko stationary? dll
Bisa dimulai dulu dengan buku yang ada di rumah, pakai bolpen, spidol, dll. Nanti pelan-pelan dilengkapi, beli stiker, washi tape, dll
Nahh ada tuh yagn journalingnya bahkan dibedakan. Ada buku khusus jurnal harian. Ada yang untuk event khusus, dll
Hebat, telaten banget.
Kalau mau joyrnaling lengkap dan puas memang harus di komplit kan peralatan dan bahan bahannya biar bisa mengeksplorasi berbagai ide jadi ga mentok gegara alat atau perlengkapan. Happy journaling
Aku bahkan dulu awal2 memulai journaling bener2 dari buku yang sudah ada prompt-nya sama pulpen doank mbak, haha.
Waktu itu bener2 cuma mau menuliskan hal2 yang aku syukuri aja, dan kebetulan cari buku yang formatnya gratitude gitu, jadi gak bingung ngisinya.
Lama-lama, aku jadi ngumpulin sticker dan mulai dipake untuk hiasan di tulisannya. Sekarang punya beberapa buku journal yang fungsinya beda-beda, ihihi. Journaling ecosystem cenah xp. (oh, dan printilan journaling yang banyak juga tentunya, hya).
seneng deh aku bisa mampir ke sini.. aku dulu sempet jurnaling dengan dotted book, lebih ke semacam agenda bulanan mingguan harian gitu.. lalu karena ada hal apa lupa, rutinitasku terhenti dan sampai sekarang belum mulai lagi, huhu xD pengen deh coba ekplore lagi jurnaling yang lucu2 gitu, sekalian berkreasi 😀 semua benda2 di atas aku setuju banget.. tapi kalau aku dulu ga pake highlighter, aku ganti pakai pinsil warna punya anakku ^^